Buku Bagus: Tribes by Seth Godin

tribes_011

Saya baru selesai membaca sebuah buku yang inspiratif berjudul “Tribes” yang ditulis oleh Seth Godin. Sebelum buku ini, Seth telah menulis beberapa buku best seller, yaitu “Purple Cow” dan “The Dip”.

Menurut pengamatan penulis terhadap latar belakang para pemimpin yang dianggap sukses memimpin kelompoknya (tribes) masing-masing, ternyata tidak ditemukan adanya kesamaan diantara mereka. Tidak ada kesamaan gender, tingkat pendapatan atau wilayah. Tidak ada gen pemimpin atau profesi pemimpin. Dengan kata lain, pemimpin tidak dilahirkan.

Namun, kalaupun mau dicari-cari kesamaannya, ada satu kesamaan mereka: keputusan untuk memimpin. Ya, karena kepemimpinan adalah pilihan. Pilihan untuk tidak tinggal diam. Pemimpin bisa ada di depan atau di belakang. Tapi pemimpin tidak pernah tinggal diam.

Pemimpin selalu mengambil inisiatif. Mereka melihat sesuatu yang diabaikan dan mereka segera bertindak. Bukan soal siapa yang paling cerdas, atau siapa yang paling brilian idenya. Ini soal siapa yang pertama kali mengambil inisiatif untuk mewujudkan suatu ide.

Banyak orang di luar sana yang memiliki kesamaan ide, tapi tidak ada yang mengambil inisiatif untuk mewujudkan idenya. Saat seseorang dari mereka mengambil inisiatif untuk tampil ke depan dalam rangka mewujudkan ide tersebut, maka, disadari atau tidak, ia telah menjadi pemimpin bagi kelompoknya.

Buku yang tebalnya hanya 144 halaman ini, cocok dibaca pada saat akhir pekan untuk mengisi kembali semangat juang di awal minggu. Dengan harga cetakan berbahasa Indonesia di bawah Rp 50 ribu saja, tidak rugi mengeluarkan uang untuk mendapatkan pencerahan dari buku ini.

Selamat membaca!

Jangan Tertipu Visi, Misi dan Program Partai!

Kalau melihat visi, misi dan program yang digelar partai politik peserta pemilu di berbagai media, bisa jadi kita akan terkesima. Semua partai politik seolah berlomba menawarkan solusi jitu untuk memperbaiki nasib bangsa.

Namun, coba bandingkan visi, misi dan program antara satu partai politik dengan partai politik yang lain. Meski bahasanya berbeda, namun kalau dicermati, sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar. Semuanya sama-sama berbicara tentang penyediaan lapangan kerja baru, swasembada pangan, penanganan krisis energi, pemberantasan korupsi, peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan, dan sebagainya. Pun, tidak ada penjelasan rinci bagaimana visi, misi dan program tersebut akan diimplementasikan.

Oleh karena itu, pemilih harus berhati-hati. Jangan mudah terpukau dengan visi, misi dan program yang disampaikan partai politik. Alasannya sederhana. Pertama, tidak ada hal yang baru dengan program-program yang ditawarkan oleh partai politik. Sebagian besar hanya bersifat jargon semata. Sebagian lainnya juga bisa ditemukan dalam buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah atau tulisan-tulisan pakar di bidangnya.

Kedua, tidak semua program-program tersebut dapat dengan mudah diukur tingkat keberhasilannya. Misalnya, janji penyediaan lapangan kerja baru tentu harus dikritisi dengan pertanyaan: berapa banyak tenaga kerja yang bisa terserap? Berapa lama implementasinya? Berapa lama lapangan kerja tersebut dapat bertahan? Lagipula, banyak variabel di luar kontrol partai politik yang turut mempengaruhi keberhasilan program-program yang ditawarkannya, seperti krisis global misalnya.

Ketiga, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey, tidak akan ada partai politik yang dapat memperoleh suara mayoritas. Perolehan suara maksimal yang mungkin diperoleh suatu partai politik adalah sekitar 20 – 30% saja. Ini berarti tidak akan ada partai politik yang mampu sendirian mengimplementasikan program-program yang ditawarkannya. Semua partai politik akan terpaksa berkoalisi. Oleh karena itu, percuma menggantungkan harapan dari program-program yang ditawarkan oleh satu partai politik saja.

Apakah berarti partai politik tidak perlu menawarkan visi, misi dan programnya? Hal itu tetap penting. Bagaimanapun juga membuat suatu perencanaan lebih baik daripada tidak membuat perencanaan sama sekali. Namun, sekali lagi, pemilih akan kecewa kalau hanya melihat dari hal itu saja.

Pemilih harus melihat kapabilitas dan kualitas caleg yang ditawarkan oleh partai politik yang bersangkutan. Percuma menawarkan visi, misi dan program yang menjulang setinggi langit kalau ternyata caleg yang diusulkannya ternyata tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengimplementasikan visi, misi dan program partainya.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan rekam jejak (track record) caleg yang diusulkan oleh partai politik. Pemilih dapat menilai kemampuan caleg setidak-tidaknya dari latar belakang pendidikannya, latar belakang pekerjaannya, dan pengalaman organisasi serta aktivitas sosial yang relevan lainnya.

Bayangkan saja, bagaimana mungkin menggantungkan harapan kepada seorang caleg yang berbicara tentang pendidikan, kalau misalnya dia tidak pernah sekalipun terlibat dalam aktivitas pendidikan atau setidak-tidaknya pernah membuat tulisan atau penelitian tentang pendidikan. Apalagi kalau ternyata, latar belakang pendidikan dan pekerjaannya sama sekali tidak berkaitan dengan bidang yang dikampanyekannya itu.

Untuk itu, kalau partai politik punya itikad baik, seharusnya partai politik juga mau mengumumkan informasi lengkap caleg yang diusulkannya. Dengan begitu, pemilih dapat menilai apakah partai politik punya sumber daya manusia dengan kapabilitas dan kualitas yang memadai untuk mengimplementasikan visi, misi dan program yang ditawarkannya. Untuk apa memilih partai politik yang hanya berani mengumbar janji, tapi tidak berani memberi informasi yang memadai.

Facebook Saya Di-banned!

facebook

Ceritanya, pada tanggal 8 Pebruari 2009 lalu,  Indonesian Society for Civilized Election (ISCEL), sebuah NGO yang saya dan kawan-kawan dirikan, melakukan konferensi pers untuk mengumumkan hasil penelitiannya terhadap kelengkapan informasi yang tercantum dalam situs-situs resmi 38 partai politik tingkat nasional. Acara itu dihadiri cukup banyak wartawan dari berbagai media massa. Pada buku tamu tercatat ada 16 media massa yang hadir, dimana 3 diantaranya adalah dari Indosiar, SCTV dan TV One.

Pada tanggal 9 Pebruari 2009, beberapa media massa telah menurunkan liputannya, yaitu antara lain Republika, Detikcom, Media Indonesia, Rakyat Merdeka, Inilah TV, Kompas TV, dan bahkan Jakarta Post sampai tiga hari memuat hasil penelitian ISCEL tersebut, yaitu pada tanggal 9, 10 dan 12 Pebruari 2009.

Pada tanggal 20 Pebruari 2009, saya meng-upload video yang berisi hasil liputan konferensi pers oleh Kompas TV di Youtube. Kemudian, link video tersebut saya share ke beberapa grup yang saya ikuti di Facebook. Tiba-tiba, saya mendapat peringatan dari administrator facebook bahwa saya telah melanggar Term of Use. Akibatnya, account Facebook saya tidak bisa diakses lagi, termasuk page ISCEL yang khusus saya buat.

Apabila saya perhatikan isi dari Term of Use tersebut, satu-satunya “pelanggaran” yang mungkin saya buat adalah karena saya meng-upload video hasil liputan Kompas TV dan Inilah TV yang bukan hasil karya saya sendiri di Facebook. Saya dapat memahami hal itu karena mungkin Facebook tidak ingin ada masalah pelanggaran hak cipta.

Namun, apabila memperhatikan ketentuan pada situs Kompas TV dan Inilah TV, sampai hari ini tidak ada ketentuan yang melarang seseorang untuk meng-upload video yang ditayangkan pada dua situs itu pada situs pihak lain. Dua video itu juga mengandung nilai berita yang telah terpublikasikan secara luas. Oleh karena pada dua video tersebut tetap ada logo dari Kompas TV dan Inilah TV sehingga menerangkan sumbernya, dan saya tidak mengambil keuntungan komersil dari upload dua video tersebut di Facebook, maka saya merasa tidak ada pihak yang dirugikan dari tindakan saya meng-upload dua video tersebut. Tindakan saya itu seharusnya dapat dikategorikan sebagai Fair Use dalam sistem hukum Amerika Serikat, tempat dimana Facebook bermarkas.

Beberapa grup yang saya share link video tersebut sudah sangat selektif sekali. Hanya yang kira-kira relevan dengan informasi dalam video itu saja yang saya share. Hal itu juga saya lakukan karena telah ada link beberapa caleg yang mempromosikan diri pada beberapa grup tersebut. Logika saya, kalau link kampanye caleg saja boleh, mengapa link video liputan konferensi pers ISCEL tidak boleh.

Beberapa orang kawan mengatakan bahwa tindakan administrator Facebook tersebut bisa jadi karena ada laporan dari pihak-pihak yang tidak menyukai aktivitas saya di Facebook. Hal ini bisa saya mengerti mengingat account Facebook saya memang banyak memuat informasi yang berkaitan dengan perjuangan ISCEL dalam mempromosikan Pemilu yang Beradab. Mungkin saja hal itu membuat “gerah” beberapa pihak.

Berkenaan dengan hal di atas, saya telah mengajukan keberatan melalui e-mail kepada administrator Facebook. Dalam balasannya, mereka menyuruh saya menunggu pemberitahuan selanjutnya.

Pada dasarnya, tidak masalah bagi saya untuk membuat account baru di Facebook atau mungkin tidak membuat sama sekali. Yang saya sayangkan adalah tidak dapat lagi di akses informasi yang bermanfaat pada account Facebook itu dan page ISCEL dalam rangka mempromosikan Pemilu yang Beradab. Semua file informasi tersebut yang pernah tersimpan di laptop saya juga telah hilang karena virus beberapa waktu lalu.

Saat ini, saya cuma bisa berharap semoga Tuhan memberikan jalan terbaik agar perjuangan ISCEL untuk mempromosikan Pemilu yang Beradab dapat terus berlanjut.

(Facebook logo and trademark are owned by Facebook Team)

Ini Film Dahsyat, Man!

film-perempuan-berkalung-so

Awalnya, saya menonton film ini hanya karena pemeran utamanya adalah Revalina S. Temat, seorang model dan bintang sinetron yang menjadi inspirasi nama anak pertama saya. Terus terang, saya kurang berminat menonton film yang bertema agama karena biasanya bersifat dogmatis.

Tapi, film yang bercerita tentang perempuan yang hidup dalam lingkungan pesantren ini memang luar biasa. Dari segi ide cerita yang bertutur tentang  perempuan yang mempertanyakan kedudukan perempuan dalam Islam ini lumayan bagus. Sepanjang film, penonton terus menerus disajikan rangkaian konflik yang menarik. Teknik pengambilan gambarnya pun lumayan bagus.

Ada satu adegan yang menarik. Ketika beberapa orang penghuni pesantren berniat kabur karena merasa kehidupan pesantren tidak bisa membuat mereka bebas berkarya, Annisa, tokoh utama yang diperankan Revalina S. Temat itu, berusaha menahan keinginan mereka. Annisa menyampaikan bahwa ketika Pramoedya Ananta Toer berada di pengasingan dengan berbagai tekanan dan intimidasi dari rezim orde baru yang berkuasa saat itu, Pramoedya tetap mampu berkarya, dengan menulis dan menghasilkan serial karya terkenalnya yang berjudul “Bumi Manusia”. 

Sebuah argumentasi yang bagus. Apabila Pramoedya saja mampu menghasilkan karya besar meski hidup dalam tekanan, mengapa kita yang hidup lebih bebas daripada Pramoedya tidak mampu berkarya, meski hanya sekedar menulis saja?

Ini Soal Kemanusiaan, Bung!

free_palestine

Sedih rasanya melihat begitu banyak orang yang menjadi korban serangan tentara Israel terhadap pejuang Hammas di Jalur Gaza. Bukan saja orang dewasa yang menjadi korban, wanita dan anak-anakpun tidak luput dari serangan tersebut. Bangunan-bangunan sekolah, rumah sakit dan tempat ibadah pun hancur lebur dihantam serangan bertubi-tubi tentara Israel.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah beragamnya respon yang ditunjukkan dunia internasional terhadap peristiwa tersebut. PBB sebagai lembaga yang seharusnya bereaksi cepat menangani masalah ini malah terkesan ragu-ragu mengambil sikap.

Begitupun dengan reaksi di dalam negeri. Dari berbagai e-mail yang berseliweran di berbagai milis seolah-olah ditonjolkan bahwa peristiwa ini adalah masalah ‘perseteruan agama’. Sehingga bagi yang tidak berkepentingan dengan ‘perseteruan agama’ itu seolah-olah bersikap masa bodoh dengan segala hal yang terjadi di sana.

Ini soal kemanusiaan, Bung! Bukan soal agama atau bangsa apa yang terlibat di sana. Sudah jelas dipertontonkan di hadapan kita begitu banyak anak-anak dan wanita yang terluka atau kehilangan nyawanya. Begitu banyak orang yang kelaparan karena terputusnya distribusi bahan pangan di sana. Apakah kemudian kita masih mempermasalahkan agama atau bangsa apa yang terlibat di sana?

Menolong sesama adalah kewajiban setiap insan. Oleh karena itu, saya salut dengan upaya beberapa tokoh yang membentuk Prakarsa Persahabatan Indonesia – Palestina (Indonesian – Palestine Friendship Initiative). Sebuah lembaga yang dibentuk oleh tokoh-tokoh lintas agama, lintas suku bangsa, lintas profesi dan lintas afiliasi politik, dalam rangka menghimpun bantuan yang diperlukan untuk rakyat Palestine. Mereka semua sepakat bahwa peristiwa yang menimpa Palestina adalah insiden kemanusiaan. Oleh karena itu, setiap orang yang merasa dirinya manusia seharusnya tergerak untuk membantu meringankan penderitaan rakyat Palestina.

Stop Segala Bentuk Kejahatan Terhadap Kemanusiaan!

Throw One Million Shoes to Israel!!!

Dian Sastro Yahud!!!

3wishes3loves1

Apa jadinya kalau Dian Sastro dan Nicholas Saputra main film bareng lagi? Jawabnya: MANTAPS!

Ya, hari ini, saya dan istri menonton film “3 Doa 3 Cinta” (3D3C) yang dibintangi oleh mereka berdua. Bukan karena saya dengar film itu berhasil lolos dalam Official Selection di Pusan International Film Festival di Korea, sehingga mendapat kehormatan untuk ditayangkan perdana atau world premier di Korea. Bukan juga karena skenario film ini dianggap bagus banget sehingga berhasil mendapatkan script development grant dari Global Film Initiative di San Francisco, Amerika Serikat; Goteborg International Film Festival Fund dari Swedia dan Fond Sud Cinema dari Perancis. Sama sekali juga bukan karena pada bulan Mei 2008 lalu, film ini mendapat kehormatan diputar di Cannes Film Festival di Perancis didepan para produser, sutradara dan distributor film internasional.

Saya menonton film ini hanya karena kangen melihat mereka berdua main bareng lagi dalam satu film. Setelah film “Ada Apa Dengan Cinta?” (AADC) yang mereka bintangi begitu mengharubiru penontonnya, saya tidak melihat lagi ada film yang dibintangi mereka begitu sefenomenal AADC. Mungkin karena lawan main mereka tidak mampu menandingi kehandalan akting mereka. Mungkin juga karena memang tidak ada chemistry dengan lawan main mereka seperti ketika mereka beradu akting di AADC.

Saya pikir memang masalah chemistry jawabannya. Tidak bisa dipungkiri kalau chemistry mereka berdua memang begitu dahsyat saat mereka beradu akting. Mimik, tingkah laku dan dialog mereka yang begitu natural di film AADC kembali berulang di film 3D3C. Saya yakin anda akan sepakat dengan saya kalau anda menyaksikannya sendiri.

Lupakan soal ide ceritanya. Lupakan soal teknis pengambilan gambarnya. Saksikan saja totalitas penampilan Dian Sastro yang berperan sebagai penyanyi dangdut tingkat kampung. Saksikan saja interaksi mereka berdua yang membawa kita bernostalgia dengan romantika mereka di film AADC.

Akhir kata, saya hanya bisa bilang: Dian Sastro memang yahud punya!!!

Menjadi Pahlawan adalah Pilihan

heroes_08_f

Saya tertarik dengan tagline serial TV populer ”Heroes” yang terjemahan bebasnya berbunyi: ”mereka menjadi pahlawan bukan karena kemampuan mereka, tapi karena mereka memilih untuk jadi pahlawan”. Saya pikir maksud tagline itu relevan dengan kenyataan saat ini.

Kadang-kadang kita tidak menyadari ada orang-orang di sekitar kita yang begitu tulus memilih untuk menjadi pahlawan. Figur Ibu Muslimah dalam kisah ”Laskar Pelangi” yang memilih membaktikan dirinya menjadi guru bagi anak-anak tidak mampu di sebuah sekolah reyot bukanlah satu-satunya sosok pahlawan itu. Masih banyak guru-guru di berbagai pelosok terpencil nusantara yang tetap memilih untuk mengajar anak didiknya meski terdesak oleh kerasnya kehidupan dunia yang materialistis ini.

Pun, orang-orang disekitar kita yang dengan tulus ikhlas memilih untuk memberikan manfaat bagi orang lain, meski harus menanggung resiko yang tidak ringan. Sekecil apapun manfaat yang diberikannya itu, menurut saya, tetap layak ia dianggap pahlawan. Tanpa perlu menunggu secarik kertas berkop surat kepresidenan yang mengangkatnya sebagai pahlawan. Karena, sejatinya, pahlawan bukanlah gelar kehormatan, melainkan pilihan hidup.

Selamat Hari Pahlawan untuk mereka yang telah memilih untuk menjadi pahlawan!

(foto: www.starstore.com)

Salut untuk Rakyat Amerika Serikat!

barack1

Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegembiraan ketika John McCain mengakui kemenangan Barack Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Dengan begitu, langkah Barack Obama menuju kursi kepresidenan AS sudah tidak terbendung lagi.

Sempat muncul kekhawatiran Bradley effect akan mengganjal mimpi Obama. Untung rakyat Amerika Serikat sudah pintar. Mereka tidak mau lagi mengulang kebodohan memilih pemimpin berkarakter penjahat perang seperti George W. Bush.

Obama sangat saya kagumi. Politisi yang benar-benar mengakar. Bukan sekedar diuntungkan oleh ’politik keluarga’. Pun, tidak menghamba kepada korporasi kelas kakap untuk membantu kampanyenya. Segala hambatan yang dialaminya sebagai seorang afro-american dihadapinya dengan sabar dan tegar.

Saya sampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada rakyat Amerika Serikat yang telah memilih Obama dan mau menerima Obama sebagai pemimpinnya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun di negeri manapun. Setiap orang memiliki dan harus diberikan kesempatan yang sama dalam meraih cita-citanya. Bukan karena keluarga, suku, agama ataupun rasnya. Rekam jejak pengalaman, pendidikan dan pengabdiannya kepada masyarakatlah yang seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam menilai kapasitas seseorang untuk menjadi pemimpin.

Selamat bertugas untuk Barack Obama a.k.a Barry Soetoro. Kami tunggu perubahan yang kau janjikan.

(foto: de.eonline.com)

Menyoroti Politik Keluarga

Beberapa hari belakangan ini berbagai media massa begitu gencar menyoroti masuknya nama-nama anggota keluarga dari petinggi partai politik atau pejabat, baik di pusat atau di daerah, dalam daftar calon anggota legislatif. Hal ini mengundang komentar dari para pengamat yang menyebutnya sebagai politik keluarga.

 

Setidak-tidaknya ada empat alasan yang mengemuka mengenai alasan terjadinya politik keluarga ini, yaitu, pertama, proses rekrutmen partai politik yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kedua, sikap sebagian besar masyarakat yang apatis terhadap partai politik, sehingga partai politik hanya bisa merekrut orang-orang di ”lingkaran dalam” partai politik untuk menjadi calon anggota legislatif.

 

Ketiga, partai politik lebih percaya pada anggota keluarga dari ”lingkaran dalam” dibandingkan orang lain yang belum dikenal. Keempat, sebagai upaya mengamankan posisi petinggi partai politik atau pejabat yang bersangkutan di segala lini.

 

Komentar-komentar tersebut akhirnya mendapat reaksi. Megawati Soekarnoputri mengatakan kepada media bahwa anaknya, Puan Maharani, yang masuk daftar calon anggota DPR melalui daerah pemilihan Jawa Tengah V, telah aktif berkiprah sejak lama di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sehingga, menurutnya, wajar saja apabila Puan Maharani masuk dalam daftar calon anggota legislatif.

 

Reaksi berbeda datang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau memerintahkan pengurus Partai Demokrat untuk mencoret nama anaknya, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, dari nomor urut satu pada daftar calon anggota DPR di daerah pemilihan Jawa Timur VII (Jatim VII). Akhirnya, Ibas ditempatkan pada nomor urut tiga di daerah pemilihan Jatim VII.    

 

Lihat Track Record-nya!

 

Terus terang, saya tidak tertarik untuk ikut-ikutan menjadi ”hakim” dalam masalah politik keluarga ini. Prinsip saya, siapapun memiliki kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Tidak boleh ada halangan bagi keluarga presiden, keluarga gubernur, keluarga tukang sayur atau keluarga tukang becak untuk maju memperebutkan jabatan publik seperti kepala negara, kepala daerah atau anggota legislatif.

 

Namun, masyarakat juga punya hak untuk memilih seseorang yang benar-benar berkualitas untuk memegang jabatan publik. Selain tidak pernah tersangkut dalam perkara tindak kejahatan, orang itu juga harus memiliki rekam jejak (track record) yang jelas. Orang itu harus memiliki pengalaman organisasi yang memadai, serta aktivitas sosial yang relevan dengan jabatan publik yang diincarnya.

 

Merupakan nilai tambah apabila orang itu aktif menyampaikan pendapatnya dalam bentuk lisan atau tulisan terhadap masalah-masalah sosial yang sedang berkembang.  Dengan begitu, masyarakat bisa mengetahui dan menilai ”isi otak” dari orang tersebut.

 

Masalahnya, saat ini partai politik tidak punya itikad baik untuk mengumumkan secara terbuka informasi lengkap mengenai calon anggota legislatif yang diusungnya. Jangan salahkan masyarakat apabila timbul kecurigaan terhadap calon anggota legislatif dari anggota keluarga petinggi partai atau pejabat tersebut. Masyarakat tidak pernah diberikan informasi yang memadai tentang track record dari calon anggota legislatif tersebut.

Apabila partai politik memang benar-benar mengajukan calon anggota legislatif yang berkualitas dan tidak mau terus menerus dicurigai masyarakat, maka segera umumkan secara terbuka informasi lengkap mengenai calon anggota legislatif yang diusungnya tersebut. Informasi tersebut minimal harus memuat nama, foto terbaru, latar belakang pendidikan, latar belakang pekerjaan, dan pengalaman organisasi serta aktivitas sosial yang relevan lainnya. Dengan informasi yang memadai, masyarakat dapat memberikan penilaian yang lebih fair terhadap para calon anggota legislatif yang diusung partai politik tersebut.

 

(foto: www.dpr.go.id)

Belajar Sabar dari Quentin Bryce

Former Queensland Governor Quentin Bryce in Los Angeles during G'Day LA Australia Week 2005

Satu lagi sosok perempuan hebat muncul di pentas politik dunia. Dialah Quentin Bryce, seorang pengacara, aktivis HAM dan akademisi, yang terpilih sebagai gubernur jenderal Australia yang baru. Saya bilang hebat karena selama 107 tahun sejarah Australia, baru sekarang jabatan gubernur jenderal Australia dipegang oleh seorang perempuan.

Secara de jure, gubernur jenderal Australia adalah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Australia. Dia juga berhak menunjuk perdana menteri apabila parlemen gagal memilih perdana menteri seusai pemilu. Dia juga berhak membubarkan kabinet.

Mengapa perempuan berusia 66 tahun ini bisa dipercaya sebagai gubernur jenderal? Tak lain tak bukan adalah karena track record-nya yang panjang dan mengagumkan. Dia merintis karirnya sebagai pengacara perempuan pertama di Negara Bagian Queensland. Kemudian, menjadi dosen hukum perempuan pertama di Universitas Queensland, tempatnya mengajar selama 15 tahun. Karirnya berlanjut dengan menjadi Direktur Pusat Informasi Perempuan Queensland.

Dia pun berhasil menembus level kepemimpinan di pemerintahan federal dengan menjadi Direktur Komisi Peluang Kesetaraan dan Hak Asasi Queensland sejak tahun 1987. Selama empat periode (1989-1993), dia menjadi komisioner Diskriminasi Seks Federal. Dia juga dipercaya sebagai pemimpin Dewan Akreditasi Anak-anak Nasional. Sederet pengalaman panjang inilah yang kemudian memuluskan langkahnya menjadi gubernur Queensland pada tahun 2003, sebelum akhirnya dilantik sebagai gubernur jenderal Australia pada 5 September 2008.

Semua kalangan di Australia menyambut baik pengangkatan Bryce. Dengan track record yang sedemikian panjang dan mengagumkan, tidak ada satupun kalangan yang meragukan kepemimpinannya.     

Bandingkan dengan track record  beberapa tokoh di tanah air yang sedang berebut jabatan publik. Kadang saya suka geli melihat ke-pede-an mereka. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah memiliki pengalaman di pemerintahan tiba-tiba mencalonkan diri sebagai kepala daerah, atau bahkan presiden? Kalaupun mereka bukan “orang pemerintahan”, mereka juga tidak punya pengalaman dalam memimpin partai politik atau organisasi non-pemerintah yang jumlah anggotanya besar atau ruang lingkup aktivitasnya luas. Bagaimana rakyat bisa yakin akan kemampuan memimpin mereka?

Kebanyakan dari mereka tidak sabar untuk mengasah kemampuan memimpinnya terlebih dahulu. Mereka tidak sadar bahwa kemampuan memimpin harus diasah dulu dengan terlibat aktif dalam organisasi dan aktivitas sosial lainnya. Kemampuan memimpin itu didapat dari belajar memimpin organisasi yang lebih kecil untuk kemudian berlanjut ke organisasi yang lebih besar.

Penggunaan popularitas atau kekayaan sebagai satu-satunya modal untuk meraih jabatan publik harus ditinggalkan, karena menjalankan jabatan publik tidak sekedar butuh popularitas atau kekayaan. Bagaimanapun kemampuan memimpin adalah modal utama seseorang menjadi pemimpin, baik di tingkat daerah atau nasional. Sangat disayangkan apabila ada orang tanpa pengalaman dan kemampuan memimpin yang memadai coba-coba merebut jabatan publik. Kepentingan masyarakat menjadi obyek permainan semata.

Cobalah belajar dari Quentin Bryce. Bukan berarti harus menunggu sampai tua dulu untuk mencapai jabatan publik yang tertinggi. Kesabarannya dalam meniti karir politik guna mencari pengalaman dan mengasah kemampuan memimpinlah yang harus dijadikan pelajaran. Dengan begitu, publik tidak akan pernah ragu mempercayakan amanah kepadanya.

(foto: goaustralia.com)