“Dalam Untung dan Malang” – WS Rendra [PUISI]

DALAM UNTUNG DAN MALANG

Seringkali aku berkata,                                                                                                                                                                                  Ketika semua orang memuji milikku                                                                                                                                                              Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya                                                                                                                                                        Bahwa rumahku hanyalah titipanNya
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya                                                                                                                                                             Bahwa putraku hanyalah titipanNya
                                                                                                                                                                                                                                     Tapi mengapa aku tak pernah bertanya                                                                                                                                               Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan padaku?                                                                                                                                                               Dan kalau bukan milikku, apa yang harus aku lakukan untuk milikNya itu?                                                                        Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?                                                                                                   Mengapa hatiku justru merasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya?                                                                  Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai Musibah,                                                                                                                Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai Petaka,                                                                                                                    Kusebut itu sebagai apa saja, untuk melukiskan kalau itu adalah derita                                                                                  

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku                                                                                          Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas,                                                                dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku                                                                Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti Matematika                                                                                                 Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih                                                                                                       Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”                                                                                                                                                       Dan menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,                                                                                                                                                                                                                   Padahal tiap hari kuucapkan,                                                                                                                                                                      Hidup dan matiku hanya untuk beribadah                                                                                                                                                      “Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

WS RENDRA
(Puisi terakhir Rendra, ditulis diatas ranjang Rumah Sakit)

3 Alasan Kita (Sangat) Berhak Kritik Anggota DPR

Teman-teman mungkin sudah melihat sendiri perilaku memalukan yang ditunjukkan anggota Dewan yang terhormat saat rapat paripurna untuk mendengarkan Laporan Panitia Angket DPR RI mengenai Pengusutan Kasus Bank Century. Ada tudingan yang langsung diarahkan kepada anggota DPR yang berperilaku memalukan tersebut. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa ini adalah kesalahan pemilih pada pemilu kemarin, sehingga tidak boleh menyalahkan anggota DPR tersebut.

Saya pikir, apapun pendapat seputar perilaku anggota DPR tersebut, setidaknya ada 3 alasan mengapa kita berhak dan harus mengkritik anggota DPR yang berperilaku tidak benar atau tidak etis, yaitu:

Pertama, saat pemilu, mereka secara sukarela mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Kalaupun diminta oleh partai politik, mereka bersedia untuk dicalonkan mewakili partai politik tersebut. Dengan begitu, menjadi anggota DPR adalah pilihan mereka sendiri, dan mereka harus mengerti konsekuensinya menjadi anggota DPR.

Kedua, di awal jabatannya, anggota DPR telah diambil sumpah/janjinya  untuk memenuhi kewajiban sebagai anggota DPR dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya; memegang teguh Pancasila dan menegakkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta peraturan perundang-undangan; menegakkan kehidupan demokrasi serta berbakti kepada bangsa dan negara; dan memperjuangkan aspirasi rakyat untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Jadi, adalah hak rakyat untuk mengingatkan wakilnya di DPR apabila telah melanggar sumpah/janjinya.

Ketiga, gaji, tunjangan dan segala fasilitas yang dinikmati anggota DPR berasal dari pajak yang dipungut dari uang hasil memeras keringat dan air mata rakyat Indonesia.  Apalagi, meski cuma bekerja selama 5 tahun (atau kurang dari 5 tahun apabila terjadi Pergantian Antar Waktu), mereka mendapat pensiun seumur hidup. Padahal kebanyakan pegawai negeri sipil telah bekerja berpuluh-puluh tahun untuk mendapat pensiun.  Jadi, kritik dari rakyat adalah wujud permintaan pertanggungjawaban penggunaan pajak yg dibayarkannya.

Jadi, jangan pernah ragu untuk melontarkan kritik sekeras apapun kepada anggota Dewan yang terhormat itu, karena kita adalah pemilik yang sah dari negeri ini.

foto: suarapembaruan.com

Buku Bagus: Tribes by Seth Godin

tribes_011

Saya baru selesai membaca sebuah buku yang inspiratif berjudul “Tribes” yang ditulis oleh Seth Godin. Sebelum buku ini, Seth telah menulis beberapa buku best seller, yaitu “Purple Cow” dan “The Dip”.

Menurut pengamatan penulis terhadap latar belakang para pemimpin yang dianggap sukses memimpin kelompoknya (tribes) masing-masing, ternyata tidak ditemukan adanya kesamaan diantara mereka. Tidak ada kesamaan gender, tingkat pendapatan atau wilayah. Tidak ada gen pemimpin atau profesi pemimpin. Dengan kata lain, pemimpin tidak dilahirkan.

Namun, kalaupun mau dicari-cari kesamaannya, ada satu kesamaan mereka: keputusan untuk memimpin. Ya, karena kepemimpinan adalah pilihan. Pilihan untuk tidak tinggal diam. Pemimpin bisa ada di depan atau di belakang. Tapi pemimpin tidak pernah tinggal diam.

Pemimpin selalu mengambil inisiatif. Mereka melihat sesuatu yang diabaikan dan mereka segera bertindak. Bukan soal siapa yang paling cerdas, atau siapa yang paling brilian idenya. Ini soal siapa yang pertama kali mengambil inisiatif untuk mewujudkan suatu ide.

Banyak orang di luar sana yang memiliki kesamaan ide, tapi tidak ada yang mengambil inisiatif untuk mewujudkan idenya. Saat seseorang dari mereka mengambil inisiatif untuk tampil ke depan dalam rangka mewujudkan ide tersebut, maka, disadari atau tidak, ia telah menjadi pemimpin bagi kelompoknya.

Buku yang tebalnya hanya 144 halaman ini, cocok dibaca pada saat akhir pekan untuk mengisi kembali semangat juang di awal minggu. Dengan harga cetakan berbahasa Indonesia di bawah Rp 50 ribu saja, tidak rugi mengeluarkan uang untuk mendapatkan pencerahan dari buku ini.

Selamat membaca!

Jangan Tertipu Visi, Misi dan Program Partai!

Kalau melihat visi, misi dan program yang digelar partai politik peserta pemilu di berbagai media, bisa jadi kita akan terkesima. Semua partai politik seolah berlomba menawarkan solusi jitu untuk memperbaiki nasib bangsa.

Namun, coba bandingkan visi, misi dan program antara satu partai politik dengan partai politik yang lain. Meski bahasanya berbeda, namun kalau dicermati, sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar. Semuanya sama-sama berbicara tentang penyediaan lapangan kerja baru, swasembada pangan, penanganan krisis energi, pemberantasan korupsi, peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan, dan sebagainya. Pun, tidak ada penjelasan rinci bagaimana visi, misi dan program tersebut akan diimplementasikan.

Oleh karena itu, pemilih harus berhati-hati. Jangan mudah terpukau dengan visi, misi dan program yang disampaikan partai politik. Alasannya sederhana. Pertama, tidak ada hal yang baru dengan program-program yang ditawarkan oleh partai politik. Sebagian besar hanya bersifat jargon semata. Sebagian lainnya juga bisa ditemukan dalam buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah atau tulisan-tulisan pakar di bidangnya.

Kedua, tidak semua program-program tersebut dapat dengan mudah diukur tingkat keberhasilannya. Misalnya, janji penyediaan lapangan kerja baru tentu harus dikritisi dengan pertanyaan: berapa banyak tenaga kerja yang bisa terserap? Berapa lama implementasinya? Berapa lama lapangan kerja tersebut dapat bertahan? Lagipula, banyak variabel di luar kontrol partai politik yang turut mempengaruhi keberhasilan program-program yang ditawarkannya, seperti krisis global misalnya.

Ketiga, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey, tidak akan ada partai politik yang dapat memperoleh suara mayoritas. Perolehan suara maksimal yang mungkin diperoleh suatu partai politik adalah sekitar 20 – 30% saja. Ini berarti tidak akan ada partai politik yang mampu sendirian mengimplementasikan program-program yang ditawarkannya. Semua partai politik akan terpaksa berkoalisi. Oleh karena itu, percuma menggantungkan harapan dari program-program yang ditawarkan oleh satu partai politik saja.

Apakah berarti partai politik tidak perlu menawarkan visi, misi dan programnya? Hal itu tetap penting. Bagaimanapun juga membuat suatu perencanaan lebih baik daripada tidak membuat perencanaan sama sekali. Namun, sekali lagi, pemilih akan kecewa kalau hanya melihat dari hal itu saja.

Pemilih harus melihat kapabilitas dan kualitas caleg yang ditawarkan oleh partai politik yang bersangkutan. Percuma menawarkan visi, misi dan program yang menjulang setinggi langit kalau ternyata caleg yang diusulkannya ternyata tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengimplementasikan visi, misi dan program partainya.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan rekam jejak (track record) caleg yang diusulkan oleh partai politik. Pemilih dapat menilai kemampuan caleg setidak-tidaknya dari latar belakang pendidikannya, latar belakang pekerjaannya, dan pengalaman organisasi serta aktivitas sosial yang relevan lainnya.

Bayangkan saja, bagaimana mungkin menggantungkan harapan kepada seorang caleg yang berbicara tentang pendidikan, kalau misalnya dia tidak pernah sekalipun terlibat dalam aktivitas pendidikan atau setidak-tidaknya pernah membuat tulisan atau penelitian tentang pendidikan. Apalagi kalau ternyata, latar belakang pendidikan dan pekerjaannya sama sekali tidak berkaitan dengan bidang yang dikampanyekannya itu.

Untuk itu, kalau partai politik punya itikad baik, seharusnya partai politik juga mau mengumumkan informasi lengkap caleg yang diusulkannya. Dengan begitu, pemilih dapat menilai apakah partai politik punya sumber daya manusia dengan kapabilitas dan kualitas yang memadai untuk mengimplementasikan visi, misi dan program yang ditawarkannya. Untuk apa memilih partai politik yang hanya berani mengumbar janji, tapi tidak berani memberi informasi yang memadai.

Facebook Saya Di-banned!

facebook

Ceritanya, pada tanggal 8 Pebruari 2009 lalu,  Indonesian Society for Civilized Election (ISCEL), sebuah NGO yang saya dan kawan-kawan dirikan, melakukan konferensi pers untuk mengumumkan hasil penelitiannya terhadap kelengkapan informasi yang tercantum dalam situs-situs resmi 38 partai politik tingkat nasional. Acara itu dihadiri cukup banyak wartawan dari berbagai media massa. Pada buku tamu tercatat ada 16 media massa yang hadir, dimana 3 diantaranya adalah dari Indosiar, SCTV dan TV One.

Pada tanggal 9 Pebruari 2009, beberapa media massa telah menurunkan liputannya, yaitu antara lain Republika, Detikcom, Media Indonesia, Rakyat Merdeka, Inilah TV, Kompas TV, dan bahkan Jakarta Post sampai tiga hari memuat hasil penelitian ISCEL tersebut, yaitu pada tanggal 9, 10 dan 12 Pebruari 2009.

Pada tanggal 20 Pebruari 2009, saya meng-upload video yang berisi hasil liputan konferensi pers oleh Kompas TV di Youtube. Kemudian, link video tersebut saya share ke beberapa grup yang saya ikuti di Facebook. Tiba-tiba, saya mendapat peringatan dari administrator facebook bahwa saya telah melanggar Term of Use. Akibatnya, account Facebook saya tidak bisa diakses lagi, termasuk page ISCEL yang khusus saya buat.

Apabila saya perhatikan isi dari Term of Use tersebut, satu-satunya “pelanggaran” yang mungkin saya buat adalah karena saya meng-upload video hasil liputan Kompas TV dan Inilah TV yang bukan hasil karya saya sendiri di Facebook. Saya dapat memahami hal itu karena mungkin Facebook tidak ingin ada masalah pelanggaran hak cipta.

Namun, apabila memperhatikan ketentuan pada situs Kompas TV dan Inilah TV, sampai hari ini tidak ada ketentuan yang melarang seseorang untuk meng-upload video yang ditayangkan pada dua situs itu pada situs pihak lain. Dua video itu juga mengandung nilai berita yang telah terpublikasikan secara luas. Oleh karena pada dua video tersebut tetap ada logo dari Kompas TV dan Inilah TV sehingga menerangkan sumbernya, dan saya tidak mengambil keuntungan komersil dari upload dua video tersebut di Facebook, maka saya merasa tidak ada pihak yang dirugikan dari tindakan saya meng-upload dua video tersebut. Tindakan saya itu seharusnya dapat dikategorikan sebagai Fair Use dalam sistem hukum Amerika Serikat, tempat dimana Facebook bermarkas.

Beberapa grup yang saya share link video tersebut sudah sangat selektif sekali. Hanya yang kira-kira relevan dengan informasi dalam video itu saja yang saya share. Hal itu juga saya lakukan karena telah ada link beberapa caleg yang mempromosikan diri pada beberapa grup tersebut. Logika saya, kalau link kampanye caleg saja boleh, mengapa link video liputan konferensi pers ISCEL tidak boleh.

Beberapa orang kawan mengatakan bahwa tindakan administrator Facebook tersebut bisa jadi karena ada laporan dari pihak-pihak yang tidak menyukai aktivitas saya di Facebook. Hal ini bisa saya mengerti mengingat account Facebook saya memang banyak memuat informasi yang berkaitan dengan perjuangan ISCEL dalam mempromosikan Pemilu yang Beradab. Mungkin saja hal itu membuat “gerah” beberapa pihak.

Berkenaan dengan hal di atas, saya telah mengajukan keberatan melalui e-mail kepada administrator Facebook. Dalam balasannya, mereka menyuruh saya menunggu pemberitahuan selanjutnya.

Pada dasarnya, tidak masalah bagi saya untuk membuat account baru di Facebook atau mungkin tidak membuat sama sekali. Yang saya sayangkan adalah tidak dapat lagi di akses informasi yang bermanfaat pada account Facebook itu dan page ISCEL dalam rangka mempromosikan Pemilu yang Beradab. Semua file informasi tersebut yang pernah tersimpan di laptop saya juga telah hilang karena virus beberapa waktu lalu.

Saat ini, saya cuma bisa berharap semoga Tuhan memberikan jalan terbaik agar perjuangan ISCEL untuk mempromosikan Pemilu yang Beradab dapat terus berlanjut.

(Facebook logo and trademark are owned by Facebook Team)

Ini Film Dahsyat, Man!

film-perempuan-berkalung-so

Awalnya, saya menonton film ini hanya karena pemeran utamanya adalah Revalina S. Temat, seorang model dan bintang sinetron yang menjadi inspirasi nama anak pertama saya. Terus terang, saya kurang berminat menonton film yang bertema agama karena biasanya bersifat dogmatis.

Tapi, film yang bercerita tentang perempuan yang hidup dalam lingkungan pesantren ini memang luar biasa. Dari segi ide cerita yang bertutur tentang  perempuan yang mempertanyakan kedudukan perempuan dalam Islam ini lumayan bagus. Sepanjang film, penonton terus menerus disajikan rangkaian konflik yang menarik. Teknik pengambilan gambarnya pun lumayan bagus.

Ada satu adegan yang menarik. Ketika beberapa orang penghuni pesantren berniat kabur karena merasa kehidupan pesantren tidak bisa membuat mereka bebas berkarya, Annisa, tokoh utama yang diperankan Revalina S. Temat itu, berusaha menahan keinginan mereka. Annisa menyampaikan bahwa ketika Pramoedya Ananta Toer berada di pengasingan dengan berbagai tekanan dan intimidasi dari rezim orde baru yang berkuasa saat itu, Pramoedya tetap mampu berkarya, dengan menulis dan menghasilkan serial karya terkenalnya yang berjudul “Bumi Manusia”. 

Sebuah argumentasi yang bagus. Apabila Pramoedya saja mampu menghasilkan karya besar meski hidup dalam tekanan, mengapa kita yang hidup lebih bebas daripada Pramoedya tidak mampu berkarya, meski hanya sekedar menulis saja?

Ini Soal Kemanusiaan, Bung!

free_palestine

Sedih rasanya melihat begitu banyak orang yang menjadi korban serangan tentara Israel terhadap pejuang Hammas di Jalur Gaza. Bukan saja orang dewasa yang menjadi korban, wanita dan anak-anakpun tidak luput dari serangan tersebut. Bangunan-bangunan sekolah, rumah sakit dan tempat ibadah pun hancur lebur dihantam serangan bertubi-tubi tentara Israel.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah beragamnya respon yang ditunjukkan dunia internasional terhadap peristiwa tersebut. PBB sebagai lembaga yang seharusnya bereaksi cepat menangani masalah ini malah terkesan ragu-ragu mengambil sikap.

Begitupun dengan reaksi di dalam negeri. Dari berbagai e-mail yang berseliweran di berbagai milis seolah-olah ditonjolkan bahwa peristiwa ini adalah masalah ‘perseteruan agama’. Sehingga bagi yang tidak berkepentingan dengan ‘perseteruan agama’ itu seolah-olah bersikap masa bodoh dengan segala hal yang terjadi di sana.

Ini soal kemanusiaan, Bung! Bukan soal agama atau bangsa apa yang terlibat di sana. Sudah jelas dipertontonkan di hadapan kita begitu banyak anak-anak dan wanita yang terluka atau kehilangan nyawanya. Begitu banyak orang yang kelaparan karena terputusnya distribusi bahan pangan di sana. Apakah kemudian kita masih mempermasalahkan agama atau bangsa apa yang terlibat di sana?

Menolong sesama adalah kewajiban setiap insan. Oleh karena itu, saya salut dengan upaya beberapa tokoh yang membentuk Prakarsa Persahabatan Indonesia – Palestina (Indonesian – Palestine Friendship Initiative). Sebuah lembaga yang dibentuk oleh tokoh-tokoh lintas agama, lintas suku bangsa, lintas profesi dan lintas afiliasi politik, dalam rangka menghimpun bantuan yang diperlukan untuk rakyat Palestine. Mereka semua sepakat bahwa peristiwa yang menimpa Palestina adalah insiden kemanusiaan. Oleh karena itu, setiap orang yang merasa dirinya manusia seharusnya tergerak untuk membantu meringankan penderitaan rakyat Palestina.

Stop Segala Bentuk Kejahatan Terhadap Kemanusiaan!

Throw One Million Shoes to Israel!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.