Caught In The Act!

Saat akhir pekan, beberapa kali saya dipergoki oleh teman-teman sedang ‘liat-liatan’ dengan notebook saya di pojokan ‘warung kopi’. Berbagai komentarpun terlontar. Ada yang bilang saya ‘gila kerja’. Ada juga yang mengasihani notebook saya yang masih saja ‘dipekerjakan’ saat weekend ūüôā

Sebenarnya saya tidak sedang bekerja, Teman. Kalaupun bekerja saat akhir pekan, saya hanya akan bekerja di kantor atau di rumah. Saat dipergoki itu, sebenarnya saya sedang bermain. Ya, bermain-main dengan ide-ide liar di kepala saya.

Saat berjalan-jalan dengan keluarga di akhir pekan, notebook biasanya tetap ikut serta. Hal ini untuk mengantisipasi ‘serangan mendadak’ di kepala saya. Entah kenapa, kalau melihat atau membaca sesuatu yang ‘tidak biasa’ seringkali muncul ide-ide liar di kepala saya. Kalau sudah begini, kepala terasa penuh dan pandangan menerawang nggak jelas.

Keluarga saya sudah mengerti kalau saya sedang mengalami kondisi itu. Biasanya, ritual selanjutnya adalah: mencari pojokan nyaman di ‘warung kopi’, memesan secangkir caffe latte, menyalakan notebook, dan memutar playlist berisi tembang-tembang milik Linkin Park, Blink 182, Iron Maiden, Deep Purple atau Scorpions. Setelah itu, tinggal membiarkan jari-jari saya menari-nari di atas keyboard mengikuti kemauan ide-ide liar di kepala saya.

Beberapa puluh menit kemudian, biasanya ide-ide liar itu telah memiliki bentuk. Anda bisa lihat sendiri sebagian bentuk ide-ide liar itu dalam blog ini atau di www.arijuliano.net. Mohon maaf kalau ternyata isinya nggak penting-penting amat. Namanya juga ide liar. Bisa semau-maunya ūüôā

Advertisements

Ironi Jalan Berlubang

Apa kesamaan jalan-jalan raya yang ada di seluruh pelosok tanah air? Pasti ada bagian yang berlubang! Mending kalau segera diperbaiki. Ada lubang di jalan yang bertahun-tahun bahkan dibiarkan begitu saja.

 

Seharusnya pemerintah daerah bisa segera menganggarkan dana untuk memperbaiki jalan-jalan berlubang didaerahnya. Tapi apa kemudian yang sering menjadi prioritas anggaran? Acara lepas sambut kepala daerah, acara lepas sambut kepala dinas dan hal-hal seremonial lain yang kadang menghabiskan dana yang lebih besar dibandingkan dana untuk memperbaiki jalan yang berlubang.

 

Coba kita hitung berapa milyar dana yang dihabiskan seorang calon kepala daerah untuk ‚ÄĚmemoles‚ÄĚ dirinya agar terlihat bagus dihadapan publik? Berapa besar dana yang dikeluarkannya untuk biaya spanduk, poster dan iklan di media cetak maupun elektronik agar dirinya terlihat baik, santun, simpatik, dermawan, baik hati, alim dan lain sebagainya? Adakah calon kepala daerah yang berpikir untuk melakukan kampanye simpatik yang lebih bermanfaat dengan memperbaiki jalan yang berlubang?

 

Jalan-jalan raya di daerah seringkali menjadi urat nadi perekonomian daerah tersebut. Apabila terdapat gangguan pada jalan tersebut, pasti akan mengganggu peri kehidupan masyarakat. Distribusi bahan makanan bisa terganggu, karyawan bisa terlambat ke kantor, pelajar bisa terlambat ke sekolah dan pegawai pemerintah bisa terlambat datang ke kantor untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

 

Pemerintah daerah seringkali menutup mata dan telinganya apabila masyarakat berkeluh kesah tentang jalan yang berlubang. Berbagai alasan biasanya dikemukakan. Dari mulai belum ada anggaran sampai menunggu anggaran tahun depan yang entah tahun depan yang mana.

 

Meski telah sering memakan korban, namun baru sekarang jalan berlubang mendapat perhatian yang begitu besar dari pemerintah daerah maupun masyarakat. Hal ini karena seorang politisi senior Sophan Sopian meninggal dunia ketika Harley Davidson-nya yang dikendarainya terjatuh saat menghindari lubang di jalan perbatasan Sragen (Jawa Tengah) dengan Ngawi (Jawa Timur). Apakah memang harus menunggu sampai ada tokoh penting yang menjadi korban?          

(foto: http://hinamagazine.com)

Aksi Mahasiswa Tanpa Simpati Publik, Omong Kosong!

Bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan dalam demonstrasi menentang kenaikan harga BBM merebak di mana-mana. Saya tidak tertarik menjadi ’hakim’ yang mempersoalkan siapa yang salah atau yang benar dalam bentrokan tersebut. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa apapun alasannya aksi mahasiswa harus dilakukan tanpa kekerasan!

 

Mahasiswa memang patut bergerak untuk menyuarakan kepeduliannya atas kondisi bangsa saat ini. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa/pemuda memiliki andil besar dalam perubahan situasi dan kondisi bangsa ini. Apabila mahasiswa berdiam diri saja dengan keadaan saat ini, maka hal itu justru akan menimbulkan tanda tanya besar.

 

Namun, aksi mahasiswa bukannya tanpa strategi. Mahasiswa sebagai kaum terpelajar harus mampu memperhitungkan dampak dari aksi yang dilakukannya. Dampak yang paling penting dari aksi mahasiswa adalah timbulnya simpati dan dukungan dari masyarakat. Suatu aksi mahasiswa tidak akan pernah berhasil mencapai tujuannya tanpa simpati dan dukungan dari masyarakat.

 

Yang dimaksud masyarakat itu bisa siapa saja. Bisa ibu rumah tangga, karyawan swasta, atau pejabat negara. Bahkan bisa saja aparat keamanan yang bertugas menjaga aksi mahasiswa. Tahu khan kenapa dalam aksi-aksi demonstrasi di berbagai negara seringkali aparat keamanan akhirnya bergabung dengan para demonstran? Jawabnya sudah jelas: simpati!

 

Mahasiswa harus mampu menarik simpati dan dukungan dari masyarakat. Hal itu jelas tidak akan dapat diraih apabila aksi mahasiswa dilakukan secara barbar, tanpa strategi yang jelas. Aksi mahasiswa yang memancing bentrokan dengan aparat keamanan jelas tidak akan menghasilkan apa-apa. Menang jadi arang, kalah jadi abu.

 

Masyarakat mendambakan aksi mahasiswa yang cerdas dan beradab. Semua orang sudah jenuh dengan kekerasan. Ada isu-isu lain yang harus segera disikapi mahasiswa ketimbang ngotot mempertanyakan kenaikan harga BBM.

 

Isu-isu lain yang penting itu adalah mengenai program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Pemilu 2009. Sudah bukan rahasia lagi apabila dalam pelaksanaan program BLT mengalami banyak penyimpangan. Mahasiswa seharusnya bisa menyikapi dengan membangun jaringan mahasiswa untuk memantau pelaksanaan program BLT ini. Pantau dan laporkan setiap penyimpangan yang terjadi, maka siapapun akan berpikir panjang untuk menyalahgunakan program BLT.     

 

Masalah Pemilu 2009 juga harus menjadi perhatian dari mahasiswa. Kerja KPU yang lambat dan pengawasan tahapan pemilu yang belum efektif menjadi isu krusial saat ini. Ketidakberesan persiapan dan pengawasan pemilu akan memperbesar kemungkinan terpilihnya wakil-wakil rakyat yang akan menambah terpuruknya kondisi bangsa. Mahasiswa seharusnya bisa berperan nyata dalam situasi ini. Sebagai contoh, pada Pemilu 1999, mahasiswa dari berbagai kampus pernah melakukan aksi nyata dengan membentuk Jaringan Perguruan Tinggi Pemantau Pemilu/UNFREL (University Network for Free and Fair Election). Pada saat itu, UNFREL mampu memberikan pendidikan pemilu untuk masyarakat serta memantau tahapan pemilu.     

   

Maju terus mahasiswa Indonesia!

Kami tunggu aksi unjuk kecerdasanmu, bukan aksi unjuk kekerasanmu!

(foto: http://iddaily.blogspot.com)

Udang Bakar Madu-nya Mang Engking

Ketika sedang berada di¬†Universitas Indonesia, Depok, ¬†untuk¬†suatu kegiatan, saya dan keluarga melihat sebuah rumah makan¬†yang terletak di dekat Danau Salam UI. Namanya “Gubuk Makan Lesehan – Mang Engking”.

Karena penasaran melihat rumah makan yang terdiri dari saung-saung bernuansa pedesaan itu, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di sana. Yang kami pesan saat itu adalah: sayur asem, ikan gurame bakar dan udang bakar madu.

Sebagai penggemar sayur asem, nilai yang pas untuk sayur asem di sana adalah 100+! Perfecto!¬†Gurih dan “rasa asem”-nya pas. Setelah sekian lama kecewa dengan rasa sayur asem di berbagai rumah makan, akhirnya saya¬†terpuaskan dengan¬†yang satu ini.

Tapi itu belum apa-apa. Walaupun saya bukan penggemar seafood, tapi udang bakar madu yang disajikan di sana bener-bener bikin nagih.¬†Walau sedang sakit gigi, tanpa terasa saya hampir¬†mendominasi satu porsi udang bakar madu yang montok dan mak nyusss tersebut¬†(udah kayak¬†Bondan Winarno, belom? … hehehe).

Pokoknya, kalo lagi main-main di UI Depok, anda harus coba udang bakar madu-nya Mang Engking. Kagak bakal nyesel dah!

(foto udang bakar madu yang menggairahkan tersebut diambil dari blog-nya Risca)

Organisasi Modern, Modal Dasar Kebangkitan Nasional

Hingar bingar peringatan 100 tahun kebangkitan nasional terdengar dimana-mana. Peristiwa berdirinya Boedi Oetomo (BO) disebut-sebut sebagai tonggak awal kebangkitan nasional. Bung Hatta sendiri menyebutnya sebagai ‚ÄĚkecambah semangat nasional‚ÄĚ.

 

BO adalah organisasi yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Soetomo dan kawan-kawan. Organisasi ini berdiri karena para pendirinya tersatukan dalam cita-cita ‚ÄĚdengan kepandaian dan kecerdasan, martabat bangsa akan terangkat sejajar dengan bangsa lain di dunia‚ÄĚ. Mereka sadar bahwa untuk mewujudkan cita-cita itu tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, namun harus dalam suatu gerakan yang terorganisir.

 

Akira Nagazumi, dalam bukunya yang berjudul ‚ÄĚThe Dawn of Indonesian Nationalism‚ÄĚ (1972), mengatakan bahwa meski BO bukan organisasi yang memiliki pengikut massal, seperti Sarekat Islam misalnya, namun BO berhasil tumbuh sebagai organisasi yang terbebas dari prasangka keagamaan dan kebekuan tradisionalisme. Para anggotanya selalu terpacu untuk mengejar perkembangan intelektual, menolak kesetiaan membuta yang emosional dan tidak terjerumus pada sikap apatis terhadap hal-hal spiritual (Nagazumi, hal. 155-156).

 

Pendapat Nagazumi itu menunjukan bahwa BO adalah suatu organisasi modern. Model organisasi yang secara berani diusung oleh para pendirinya pada masa di mana faham kebangsaan Indonesia belum dikenal. Model organisasi yang tepat untuk memperjuangkan cita-cita besar para pendirinya dan layak dijadikan contoh untuk organisasi yang berdiri setelahnya.

 

Presiden SBY telah mencanangkan tahun 2008 sebagai Tahun Kebangkitan Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah organisasi-organisasi yang ada saat ini sudah menunjukkan dirinya sebagai organisasi modern?

 

Mari kita lihat partai-partai politik di Indonesia sebagai contoh organisasi yang ada saat ini. Meski partai politik sudah memiliki aturan main yang jelas dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya, namun karena kesetiaan dan penghormatan berlebihan kepada seorang tokoh kadang sabda sang tokoh dapat mengesampingkan aturan main organisasi itu.

 

Partai-partai politik yang seharusnya menjadi wadah untuk memperjuangkan aspirasi konstituennya, kadang malah menjadi makelar jabatan bagi orang yang butuh dukungan untuk menjadi pejabat negara. Partai-partai politik yang tidak berazaskan agama (sekuler) kadang begitu rikuh atau enggan mengambil sikap mengenai masalah yang berkaitan dengan kehidupan beragama, padahal dampak dari masalah itu menyangkut kepentingan nasional.  

 

Itu baru menyoroti tentang partai politik saja. Belum bentuk-bentuk organisasi yang lain. Masih ada organisasi kedaerahan yang getol memperjuangkan kepentingan daerahnya tanpa mempedulikan dampaknya terhadap daerah lain. Masih ada organisasi profesi yang getol memperjuangkan kepentingan profesinya tanpa mempedulikan kualitas pelayanan profesinya kepada masyarakat. Kalau kenyataannya demikian, apakah Indonesia sudah siap untuk bangkit?

 

(foto suasana kongres Boedi Oetomo diambil dari www.blikopdewereld.nl)

KBBC dalam Berita!

Berdasarkan informasi dari Payjo, seorang rekan di KBBC, wartawan dari koran “Satelite News” tertarik untuk mewawancarai dia berkaitan dengan Kursus Blog yang diselenggarakan pada tanggal 11 Mei 2008 lalu. Walhasil, muncullah¬†artikel mengenai KBBC dan kursus blog itu pada¬†koran “Satelite News” terbitan hari Sabtu, 17 Mei 2008.

Sangat membanggakan melihat ada¬†artikel di koran¬†yang menulis tentang KBBC dan aktivitasnya.¬†Tapi itu belum apa-apa. Yang¬†paling seru adalah …. nama Payjo, yang aslinya Ahmad Faisal Abdullah Hardi, ditulis PAK IJO! …huahaha

Good job, Pak Ijo, eh, Payjo!

 

(foto: blog Payjo)     

Kursus Nge-Blog ala KBBC

Pada hari Minggu, 11 Mei 2008, kemaren, saya turut berpartisipasi dalam Kursus Blog Benteng Cisadane yang diselenggarakan oleh Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), bertempat di Multiplus Kisamaun, Tangerang. Pada kursus gratis yang terbuka bagi masyarakat umum itu, diberikan pelatihan teknis membuat blog di dagdigdug.com dan penjelasan mengenai nge-blog yang ber-etika dan sadar hukum.

Saya sendiri¬†berkesempatan memberikan materi berjudul “Tips Nge-Blog Sehat ala KBBC” pada kursus¬†yang diikuti oleh 20 orang itu.¬†Dalam materi itu saya menyampaikan bahwa pada pokoknya nge-blog itu ada juga etika dan aspek hukumnya. Secara garis besar hal itu saya rangkum dalam¬†lima hal pokok, yaitu, pertama, utamakan posting hasil karya sendiri. Kedua, apabila ingin mem-posting hasil karya orang lain, jangan lupa untuk meminta ijin dari orang yang bersangkutan.

Ketiga, hindari mem-posting sesuatu yang tidak jelas kebenarannya. Keempat, hindari mem-posting sesuatu yang bernuansa pornografi/asusila. Kelima, hindari mem-posting sesuatu yang melecehkan fisik, keyakinan, kelompok, suku/bangsa, dan pekerjaan pihak lain.

Meski masih ada kekurangan di sana-sini, namun itikad baik dan kerja keras KBBC untuk menyelenggarakan kursus tersebut patut diacungi jempol setinggi-tingginya. Moga-moga kursus seperti itu bisa terus diselenggarakan, sehingga dapat membantu menumbuhkembangkan minat membaca dan menulis di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Amiin 

(foto: koleksi KBBC)