Persyaratan Partai Peserta Pemilu Harus Diperketat, Boss

Siapapun tahu, merupakan hak setiap orang untuk mendirikan partai politik. Tapi bukan berarti setiap partai politik dapat mengikuti pemilu. Sejak Pemilu 1999, Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang berwenang melakukan verifikasi dan menetapkan partai politik mana yang dapat ikut pemilu berdasarkan persyaratan yang diatur dalam UU Pemilu yang selalu diamandemen setiap kali akan diadakan pemilu.

 

Meski telah dilakukan verifikasi, partai politik yang dapat mengikuti pemilu menurut saya masih terlampau banyak. Lihat saja pada Pemilu 1999 sebanyak 48 partai politik ikut berlaga memperebutkan kursi di DPR dan DPRD, meski pada Pemilu 2004 telah menjadi 24 partai politik.

 

Memang apa yang salah dengan banyaknya peserta pemilu?

 

Tidak salah memang. Hanya saja semakin banyak peserta pemilu berarti, pertama, biaya penyelenggaraan pemilu, yang bersumber dari APBN, akan semakin besar. Satu contoh sederhana saja, ukuran dan banyaknya kertas yang digunakan untuk memuat seluruh tanda gambar partai politik peserta pemilu tentu memiliki korelasi dengan banyaknya peserta pemilu. Belum lagi dengan ukuran dan banyaknya kertas yang akan digunakan untuk memuat nama-nama calon anggota legislatif yang diusulkan oleh masing-masing partai politik tersebut. Bisa dibayangkan, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk pengadaan kertas saja.

 

Kedua, semakin sulit pengaturan dan pengawasan terhadap peserta pemilu. Ambil contoh soal kampanye. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya membagi waktu dan wilayah kampanye untuk peserta pemilu. Meski selama Pemilu 2004 dalam satu hari terdapat lebih dari satu partai politik yang berkampanye dan situasi kampanye relatif aman terkendali, namun tidak ada yang dapat memastikan hal itu akan terjadi lagi pada Pemilu 2009. Situasi dan kondisi nasional yang melatarbelakangi Pemilu 2004 dan 2009 jelas berbeda.

 

Ketiga, pemilih akan semakin bingung. Setiap partai politik tentu akan mengkampanyekan program dan nama-nama calon anggota legislatif-nya. Bisa dibayangkan, kadang partainya saja kita belum kenal, apalagi calon anggota legislatif yang diusulkannya. Ketika partai itu berpromosi, materi kampanye antara satu partai dengan partai yang lainpun cenderung tidak jauh berbeda. Akhirnya pemilih akan bingung. Imbasnya, pemilih menjadi apatis terhadap pemilu. Hal inilah yang bisa membuat jumlah orang yang ”golput” meningkat.  

 

Harapan saya, KPU bisa bertindak tegas dalam melakukan verifikasi terhadap partai politik. Jangan memberi toleransi sedikitpun terhadap kekurangan dalam pemenuhan syarat untuk menjadi peserta pemilu.

 

Mudah-mudahan juga anggota DPR yang terpilih pada Pemilu 2009 akan memperketat persyaratan peserta pemilu pada amandemen UU Pemilu berikutnya. Dengan begitu, tidak ada lagi orang yang berprinsip ”iseng-iseng berhadiah” dalam mendirikan partai politik.

 

Mengutip tulisan Bung Hatta dalam bukunya ”Demokrasi Kita”, mengenai fenomena jumlah partai politik yang membengkak paska pemilu 1955, pada hakikatnya partai adalah alat untuk menyusun pendapat umum secara teratur dan sarana pembelajaran rakyat untuk bertanggungjawab sebagai pemangku negara. Kenyataannya, partai politik banyak didirikan sebagai tujuan akhir, dan negara menjadi alatnya. Hal itulah yang kemudian membuka peluang bagi ”para petualang” untuk maju. Akhirnya pergerakan diperalat, dan partai politik ditunggangi demi kepentingan sendiri. Akibatnya, anarki politik terus berulang, dan korupsi serta demoralisasi semakin merajalela. Mengerikan, bukan?

1 Comment

  1. Artikelnya Mantaf

    Salam
    Jasa Pembuatan Kaos dan Sweater


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s