Organisasi Modern, Modal Dasar Kebangkitan Nasional

Hingar bingar peringatan 100 tahun kebangkitan nasional terdengar dimana-mana. Peristiwa berdirinya Boedi Oetomo (BO) disebut-sebut sebagai tonggak awal kebangkitan nasional. Bung Hatta sendiri menyebutnya sebagai ”kecambah semangat nasional”.

 

BO adalah organisasi yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Soetomo dan kawan-kawan. Organisasi ini berdiri karena para pendirinya tersatukan dalam cita-cita ”dengan kepandaian dan kecerdasan, martabat bangsa akan terangkat sejajar dengan bangsa lain di dunia”. Mereka sadar bahwa untuk mewujudkan cita-cita itu tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, namun harus dalam suatu gerakan yang terorganisir.

 

Akira Nagazumi, dalam bukunya yang berjudul ”The Dawn of Indonesian Nationalism” (1972), mengatakan bahwa meski BO bukan organisasi yang memiliki pengikut massal, seperti Sarekat Islam misalnya, namun BO berhasil tumbuh sebagai organisasi yang terbebas dari prasangka keagamaan dan kebekuan tradisionalisme. Para anggotanya selalu terpacu untuk mengejar perkembangan intelektual, menolak kesetiaan membuta yang emosional dan tidak terjerumus pada sikap apatis terhadap hal-hal spiritual (Nagazumi, hal. 155-156).

 

Pendapat Nagazumi itu menunjukan bahwa BO adalah suatu organisasi modern. Model organisasi yang secara berani diusung oleh para pendirinya pada masa di mana faham kebangsaan Indonesia belum dikenal. Model organisasi yang tepat untuk memperjuangkan cita-cita besar para pendirinya dan layak dijadikan contoh untuk organisasi yang berdiri setelahnya.

 

Presiden SBY telah mencanangkan tahun 2008 sebagai Tahun Kebangkitan Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah organisasi-organisasi yang ada saat ini sudah menunjukkan dirinya sebagai organisasi modern?

 

Mari kita lihat partai-partai politik di Indonesia sebagai contoh organisasi yang ada saat ini. Meski partai politik sudah memiliki aturan main yang jelas dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya, namun karena kesetiaan dan penghormatan berlebihan kepada seorang tokoh kadang sabda sang tokoh dapat mengesampingkan aturan main organisasi itu.

 

Partai-partai politik yang seharusnya menjadi wadah untuk memperjuangkan aspirasi konstituennya, kadang malah menjadi makelar jabatan bagi orang yang butuh dukungan untuk menjadi pejabat negara. Partai-partai politik yang tidak berazaskan agama (sekuler) kadang begitu rikuh atau enggan mengambil sikap mengenai masalah yang berkaitan dengan kehidupan beragama, padahal dampak dari masalah itu menyangkut kepentingan nasional.  

 

Itu baru menyoroti tentang partai politik saja. Belum bentuk-bentuk organisasi yang lain. Masih ada organisasi kedaerahan yang getol memperjuangkan kepentingan daerahnya tanpa mempedulikan dampaknya terhadap daerah lain. Masih ada organisasi profesi yang getol memperjuangkan kepentingan profesinya tanpa mempedulikan kualitas pelayanan profesinya kepada masyarakat. Kalau kenyataannya demikian, apakah Indonesia sudah siap untuk bangkit?

 

(foto suasana kongres Boedi Oetomo diambil dari www.blikopdewereld.nl)

4 Comments

  1. he…he…he…santai aja mas, kan berproses

  2. @ Anggara

    Iya, sih. Tapi prosesnya sampai kapan ya? … hehehe

  3. Mudah-mudahan Dengan Peringatan 100 Tahun “Kebangkitan Nasional” Bisa Menjadikan Indonesia Lebih baik Lagi dari Tahun-tahun Sebelumnya.

  4. mw nnya ney???

    organisasi moern itu idealnya seperti pa?? dan ciri-cirinya bagaimana?/
    sebagai sharing za.. ternyata masih banyak yang belum memahami menalam tentang organisasi modern tersebut.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s