Menyiasati Minimnya Anggaran Pertahanan RI

Adanya Latihan Gabungan TNI yang diselenggarakan pada tanggal 1 – 20 Juni 2008, berlokasi di Natuna, Batam, Singkawang (Kalimantan Barat) dan Sanggata (Kalimantan Timur), menarik perhatian beberapa orang teman untuk berdiskusi mengenai alat utama sistem pertahanan (Alutsista) TNI. Diakui bahwa sebagian besar Alutsista yang dimiliki TNI perlu diperbaharui. Namun, karena keterbatasan anggaran, Departemen Pertahanan (Dephan) dan TNI tampaknya harus berpikir keras untuk menyiasatinya.

Sebenarnya, untuk mengatasi keterbatasan anggaran pertahanan itu, Dephan telah menyusun konsep keterpaduan kebutuhan ketiga matra angkatan. Pembelian Alutsista untuk memenuhi kebutuhan masing-masing matra angkatan diusahakan terpadu. Misalnya, dalam pembelian kendaraan pengangkut personil dan helikopter diupayakan produksi buatan dalam negeri, yang mana minimal bisa digunakan untuk dua atau tiga matra angkatan.

Selain itu, konsep pertahanan terpadu antara militer dan non-militer juga telah dipertimbangkan. Misalnya, dalam pembangunan jalan tol atau bandara bisa dikaitkan dengan fungsi pertahanan, seperti jalan tol bisa didarati pesawat. Intinya, kebutuhan minimal pertahanan negara tetap diupayakan untuk dipenuhi dengan anggaran pertahanan yang terbatas (sumber: Antara).

Strategi Alternatif

Mengingat kondisi keuangan negara saat ini, Saya pikir ada dua cara yang sebenarnya dapat diupayakan Pemerintah RI agar sistem pertahanan nasional dapat berlaku efektif tanpa perlu membeli Alutsista yang baru. Pertama, mengedepankan diplomasi. Apabila Pemerintah RI masih percaya dengan doktrin si vis pacem para bellum (siapa yang ingin damai, siapkan perang), maka tentu fokusnya akan selalu berusaha menambah anggaran untuk membeli Alutsista baru. Padahal peran diplomasi seharusnya bisa lebih dikedepankan agar perdamaian dunia tidak selalu didahului dengan perang.

Diplomasi tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah (G to G), namun Pemerintah RI dapat memfasilitasi organisasi non-pemerintah agar juga dapat berperan dalam membangun jejaring internasional untuk mengkampanyekan perdamaian dunia (People to People/P to P). Model diplomasi P to P ini telah dicontohkan oleh PP Muhammadiyah dengan diselenggarakannya World Peace Forum. Pada forum yang dihadiri tokoh-tokoh agama dari dalam dan luar negeri ini dimaksudkan untuk memberikan ruang dialog perdamaian bagi tokoh peradaban dunia untuk menggali nilai-nilai luhur kemanusiaan, persamaan nasib dan tanggung jawab untuk menciptakan perdamaian dunia.

Diplomasi G to G dan P to P untuk mengkampanyekan perdamaian dunia ini mungkin biayanya bisa lebih minim ketimbang membeli Alutsista baru. Melalui diplomasi ini, semua prasangka dan praduga antara satu negara terhadap negara lain dapat ditekan seminimal mungkin. Dengan demikian, ancaman potensial dari luar bagi pertahanan suatu negara dapat diminimalisir pula.

Kedua, membentuk pakta pertahanan ASEAN. Mungkin ide ini terdengar gila. Namun, daripada negara-negara anggota ASEAN saling curiga satu sama lain, lebih baik dilakukan kerjasama pertahanan bersama. Dapat disepakati bahwa penyerangan terhadap suatu negara anggota ASEAN dianggap penyerangan terhadap seluruh anggota ASEAN. Dengan begitu, seluruh anggota ASEAN akan saling membantu dan melindungi negara anggota ASEAN yang sedang diserang musuh.

Dengan konsep pertahanan bersama tersebut, masing-masing negara anggota ASEAN akan saling melengkapi kekurangan sistem pertahanan masing-masing. TNI tidak perlu lagi membeli Alutsista baru yang telah dimiliki oleh negara anggota ASEAN yang lain. TNI seharusnya cukup percaya diri dengan ketangguhan individu personilnya yang telah diakui dunia internasional sebagai kelebihan Indonesia dalam konsep pertahanan bersama ASEAN tersebut.

Dengan dua cara yang saya usulkan di atas, anggaran pertahanan untuk pembelian Alutsista baru dapat diminimalisir. Pada gilirannya, anggaran negara dapat lebih difokuskan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan warga negara. Semoga.

(foto: http://www.inidia.de)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s