Mohon Maaf Lahir dan Batin

Metallica… oh… Metallica

Begitu membaca ulasan di sebuah surat kabar tentang album baru Metallica yang berjudul Death Magnetic, saya langsung bersukacita. Dalam ulasan itu dikatakan bahwa album itu dianggap sebagai “penemuan diri kembali” Metallica. Album ini dikatakan sebagai hasil belajar serius para personel Metallica dan produsernya dari kegagalan penjualan album terakhir mereka, St Anger, dan kesuksesan fenomenal album Master of Puppets.

Saya mengenal Metallica sejak kelas 1 SMP, tepatnya tahun 1988, ketika seorang teman “memaksa” saya untuk mendengarkan lagu-lagu Metallica dari album …And Justice for All. Sejak saat itu, entah mengapa, saya merasakan nikmatnya mendengarkan musik cadas dari band seperti Metallica dan sejenisnya. Lagu-lagu yang kebanyakan liriknya berisi isu-isu keadaan dunia dan protes sosial itu terdengar begitu merdu di telinga saya.

Saat itu, semua album Metallica, dari mulai Kill ’em All sampai ”black album”, saya koleksi. Bahkan, saat kelas 3 SMP, saya dan teman-teman sekolah membentuk band yang karakter masing-masing personilnya meniru karakter personil Metallica. Dengan spesialisasi lagu-lagu Metallica tentunya.

Sejujurnya, saya mulai ”kecewa” dengan Metallica, ketika mereka mengeluarkan ”black album”. Saya merasa tempo permainan mereka dalam album itu tidak secepat album-album sebelumnya. Musiknya pun tidak ”galak” seperti album-album sebelumnya. Kemudian, entah mengapa, album-album Metallica setelah itu menjadi terasa ”hambar”. Saya tidak bisa lagi menikmati lagu-lagu Metallica.

Makanya, ketika album Death Magnetic diluncurkan, saya menaruh harapan besar. Saya ingin sekali bisa menikmati lagu-lagu Metallica seperti dulu.

Kenyataannya? Saya harus kecewa sekali lagi. Setelah mendengarkan lagu-lagu dari album itu, saya masih belum ”menemukan diri” Metallica yang saya kenal pada album-album awal mereka. Memang tempo musiknya tetap cepat. Musiknya pun lumayan “galak”. Namun, mengapa saya masih tidak bisa menikmati  lagu-lagunya, ya? Apakah saya terjebak nostalgia masa lalu?

Nyatanya, dari 10 lagu dalam album itu, saya hanya bisa menikmati 2 lagu saja, yaitu ”All Nightmare Long” dan ”The Day That Never Comes”. Itupun setelah didengarkan berkali-kali dulu baru telinga saya bisa menikmatinya. Padahal, dulu saya bisa menikmati semua lagu di album-album awal mereka dengan hanya mendengarkan sekali dua kali saja.

Mungkin memang begitulah roda kehidupan. Ada saatnya di atas, ada saatnya juga di bawah. Metallica pernah demikian berjayanya pada masa lalu. Saat ini mungkin masanya Metallica berada di bawah. Merelakan band-band baru memegang tongkat estafet kejayaan musik cadas.

Bagi saya, sampai kapanpun Metallica tetap band terbaik di muka bumi ini. Metallica pernah menjadi salah satu kenangan terhebat dari masa lalu saya. Metallica dan lagu-lagunya pun sedikit banyak turut membentuk karakter pribadi saya. Mudah-mudahan Metallica dapat ”menemukan diri” mereka kembali di album-album mereka berikutnya.

Metal up your a%#!!!

(foto-foto: Metallica.com)

Mengapa Sipil Merasa Inferior Terhadap Militer?

Pagi ini saya membaca sebuah artikel di Kompas berjudul “Sipil Masih Merasa Inferior terhadap Militer”. Artikel ini sebenarnya membahas tentang peluncuran hasil survey dari sebuah NGO tentang peluang tokoh berlatar belakang militer dalam kancah politik indonesia. Pengamat politik J. Kristiadi dalam acara tersebut mengakui bahwa sistem pengkaderan dan pencetakan pemimpin dalam militer saat ini memang lebih baik dibandingkan yang dilakukan kelompok sipil.

Menurut saya, baik rekan-rekan yang berlatar belakang sipil atau militer, sebenarnya memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan kepemimpinan dan mempraktekan ilmu kepemimpinan dalam bidang kerjanya masing-masing. Namun, kesempatan yang diperoleh oleh rekan-rekan di militer lebih terprogram dan terarah dibandingkan rekan-rekan di sipil.

Rekan-rekan di militer memiliki kesempatan untuk sekolah/kursus lanjutan yang diselenggarakan secara terprogram, sedang rekan-rekan di sipil kesempatannya bervariasi tergantung institusi tempatnya bernaung. Kalau institusinya mempunyai perhatian terhadap pengembangan SDM, maka rekan-rekan di sipil bisa memperoleh kesempatan yang baik. Menjadi masalah kalau institusi tempatnya bernaung tidak ada program pengembangan SDM-nya. Meski bisa mencari pengembangan di luar, namun akhirnya sifatnya menjadi sporadis dan tidak terprogram.


Wawasan yang dikembangkan di militer juga memberi nilai tambah bagi rekan-rekan di militer. Karena dalam setiap kegiatannya, selalu ditanamkan bahwa kepentingan nasional di atas segalanya. Sedang rekan-rekan di sipil kadang tidak mampu menjelaskan kepentingannya. Kalaupun mampu menjelaskan kepentingannya, publik dapat dengan mudah curiga apabila latarbelakang aktivitasnya dianggap bertentangan dengan kepentingannya itu. Hal ini membuat publik dapat lebih mudah men-”cap” tokoh militer sebagai seorang nasionalis ketimbang terhadap tokoh sipil. Seorang nasionalis dianggap dapat berdiri di atas kepentingan semua golongan.

Dalam bekerja, rekan-rekan di militer selalu bersentuhan dengan kepentingan umum. Sehingga ketika menjadi pejabat negara, bagi mereka itu hanya penugasan baru saja. Nothing special. Sama-sama melayani kepentingan umum.

Sedang rekan-rekan di sipil tidak semua bidang pekerjaannya bersentuhan langsung dengan kepentingan umum. Bekerja kadang hanya untuk mengejar materi semata. Menjadi masalah ketika tokoh sipil yang dalam kesehariannya tidak pernah bersentuhan dengan kepentingan umum itu berniat menjadi anggota legislatif atau kepala daerah. Akibatnya, konsultan politiknya sibuk memberi “bedak” tebal-tebal agar terlihat menarik didepan publik, memberi “gincu” tebal-tebal agar kata-kata yang terucap dari bibirnya terdengar manis, dan memberi “parfum” sebanyak-banyaknya agar tercium wangi segala perbuatannya. Apa yang bisa diharapkan dari “pemimpin produk salon” seperti ini?

Sipil yang merasa inferior terhadap militer adalah sipil yang alpa dalam mempersiapkan diri untuk masuk ke wilayah publik. Bagi rekan-rekan di sipil yang berniat masuk ke wilayah publik, jangan lupa untuk terus mengembangkan diri melalui berbagai pelatihan atau pendidikan yang relevan. Tidak lupa juga untuk aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan memiliki dua efek, yaitu menumbuhkan kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat dan meraih kepercayaan (trust) masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Kalau sudah begitu, tidak perlu lagi ada perasaan inferior sipil terhadap militer.

(foto: http://www.gerbang.jabar.go.id)

Old School Books

Saya baru dikirimi e-mail oleh seorang teman. Isinya ternyata foto buku-buku sekolah semasa SD dan SMP dulu. FYI, saya masuk SD itu sekitar tahun ’83-an.

Langsung teringat ketika di SD dulu belajar membaca dan menulis. Tokoh Budi, Iwan dan Wati adalah “tokoh abadi” yang selalu menemani dalam setiap seri buku pelajaran bahasa Indonesia. Budi adalah anak tertua, Wati adalah anak tengah, dan Iwan adalah si bungsu.

Tak pernah menyangka, dari belajar menulis di buku tulis bergaris, sekarang belajar menulis di media maya. Hm … What a life!

The Secret of Rizq

Istilah “rizq”, atau sehari-hari dikenal dengan istilah “rezeki”, adalah istilah yang sering dibicarakan orang. Melalui tulisan ini, perkenankan saya dengan segala keterbatasan pengetahuan agama ini menyampaikan hal-hal penting berkenaan dengan rezeki yang saya rangkum dari berbagai literatur dan pendapat ulama-ulama bijak.

Sumber Rezeki

Allah adalah Razzaaq, Maha Pemberi Rezeki (QS 51:58). Ia adalah sumber rezeki bagi semua makhluk hidup. Manusia dan makhluk hidup lainnya berkedudukan sebagai pencari dan penerima rezeki Allah.

Jaminan Rezeki

Setiap makhluk hidup terlahir sudah dijamin rezekinya oleh Allah (QS 11:6). Menurut hadits, rezeki telah ditetapkan semenjak manusia masih di dalam kandungan. Sesungguhnya Allah, demikian hadis riwayat Al-Bukhari itu, telah mengutus seorang malaikat ke rahim manusia, dan ketika Allah berkehendak memberi takdir pada ciptaan-Nya, laki-laki atau perempuan, sengsara atau bahagia, juga rezeki dan ajalnya, malaikat ini pun mencatat semuanya pada janin itu.

Oleh karena itu, setiap makhluk sudah dipastikan bagian rezekinya masing-masing. Tidak mungkin ada rezeki yang salah alamat.

Cara Memperoleh Rezeki

Tak ada cara lain untuk memperoleh rezeki selain dengan berusaha atau bekerja (QS 16:39). Dalam al-Qur’an, kerja yang baik adalah ibadah. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam usaha mencari rezeki itu adalah sebagai berikut:

  1. Menyadari bahwa rezeki datangnya dari Allah. Oleh karena itu, jangan menyekutukan Allah dengan makhluk yang hanya menjadi perantara rezeki (QS 2:22);
  2. Menyadari bahwa rezeki yang dilimpahkan Allah untuk makhluknya adalah sangat luas dan beraneka ragam, bahkan tiada terhitung (QS 24:38). Oleh karena itu, manusia harus paham bahwa rezeki yang diterimanya mungkin datang dalam bentuk yang berbeda dengan yang diharapkannya;
  3. Memilih mencari rezeki di tempat yang baik saja (thayyibah), karena Allah telah menyediakan cukup banyak tempat yang baik untuk mencari rezeki (QS 2:57; 17:70);
  4. Menyadari bahwa menyisihkan waktu untuk beribadah disela-sela usaha mencari rezeki tidak akan mengurangi jatah rezeki yang sepatutnya diterima (QS: 24:37-38; 62:9-10);
  5. Menyadari bahwa rezeki yang akan diperoleh adalah sesuai dengan usaha yang dilakukannya (QS 16:39). Namun, usaha tersebut tidak boleh kelewat batas sehingga mengesampingkan pertimbangan rasional, karena sesungguhnya Allah telah menentukan takaran rezeki yang akan diperolehnya (QS 15:21);
  6. Menyadari bahwa rezeki dari Allah untuk seseorang itu tidak hanya berada di satu tempat, tapi tersebar di banyak tempat (QS 67:15);
  7. Menghindari mencari rezeki dengan cara yang merugikan orang lain atau merusak lingkungan (QS 4:29; 11:85-86); dan
  8. Memanfaatkan waktu bekerja dengan sebaik-baiknya (QS 103:1-3).


Perantara Rezeki

Rezeki bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka (QS 65:3). Rezeki tidak selalu datang melalui orang yang memiliki hubungan kerja atau hubungan perniagaan dengan kita. Oleh karena itu, hubungan baik jangan hanya dibina dengan atasan, klien atau rekan usaha saja, tapi juga harus membina hubungan baik dengan siapapun yang ada di sekitar kita.

Perbedaan Perolehan Rezeki

Walaupun usaha yang dilakukan seseorang sama dengan orang lain, namun rezeki yang diperoleh setiap orang bisa berbeda-beda. Ada orang yang diberikan rezeki oleh Allah lebih banyak dibandingkan orang yang lain (QS 16:71). Hal ini tidak boleh menimbulkan iri hati (QS 4:32), karena Allah mengetahui apa yang paling baik bagi makhluknya (QS 2:216).

Amalan Pelancar Rezeki

Meski setiap orang telah dijamin rezekinya oleh Allah, namun kadang diperlukan beberapa amalan khusus agar rezeki dapat lebih mudah diperoleh. Adapun beberapa amalan tersebut adalah:

  1. Berbuat baik kepada kedua orang tua (QS 6:15; 46:15-18);
  2. Istighfar dan bertobat kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan (QS 71:10-12). Dengan bertobat berarti menyesali perbuatan/dosa yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak mengulangi lagi, dan apabila terkait dengan hak sesama maka meminta kerelaan dari orang yang dirugikan dengan minta maaf dan/atau mengembalikan/memperbaiki hartanya;
  3. Takwa (QS 65:2-3), yang definisinya antara lain merasa takut kepada Allah, beramal dengan wahyu yang diturunkan, ridha dengan rezeki yang diterima dan siap menghadapi kematian;
  4. Tawakal (HR: Ibnu Maajah dan Ahmad), yaitu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan usaha yang maksimal;
  5. Bersedekah (QS 2:261; 34:39);
  6. Bersilaturahmi (HR: al-Bukhaari);
  7. Berhijrah di jalan Allah (QS 4:100), yaitu berpindah dari tempat atau kondisi yang penuh maksiat ke tempat atau kondisi yang sekiranya dapat menyelamatkan akidah;
  8. Berhaji dan umrah (HR: Sunan al-Tirmidzi);
  9. Berdagang atau membuka usaha (HR: Musnad Ahmad); dan
  10. Beribadah sepenuhnya kepada Allah (HR: Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim).

Fungsi Sosial Rezeki

Setiap rezeki yang kita peroleh pada dasarnya memiliki fungsi sosial (QS 51:19; 89:15-20; 51:19). Oleh karena itu, harus ada sebagian dari rezeki itu yang dipergunakan untuk membantu orang-orang miskin dan yang membutuhkan.

Pertanggungjawaban Rezeki

Setiap rezeki yang kita peroleh ada pertanggungjawabannya. Di akhirat nanti, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana memperoleh dan menggunakan rezekinya itu (QS 3:25; 3:30; 3:115; 3:195; 4:85).

————–

Demikian hal-hal penting mengenai rezeki yang dapat saya rangkum. Saran, masukan dan kritik terhadap rangkuman tersebut amat sangat diperlukan untuk menyempurnakan rangkuman tersebut, sehingga dapat memberikan manfaat lebih besar bagi yang membaca dan mengamalkannya.

Akhir kata, segala yang baik dari rangkuman tersebut datangnya hanya dari Allah SWT. Apabila ada kesalahan atau kekurangan dari rangkuman tersebut adalah murni kesalahan saya pribadi sebagai manusia yang penuh dengan kekurangan.

Bahan Rujukan:

  • Ensiklopedi Al- Qur’an oleh Prof. Dr. Dawam Rahardjo
  • Pembuka Pintu Rezeki, Artikel Fatawa Vol.III/No.09/Agustus 2007
  • Menjemput Rezeki dengan Berkah, Tausiyah oleh Aa Gym

(foto: http://www.duniaemas.blogspot.com)

Artis mau terjun ke politik? Liat Arnold, tuh!

Kemarin malam saya menonton acara dialog di televisi yang menampilkan seorang pengamat politik muda. Ketika ditanya pendapatnya mengenai banyaknya artis yang mendaftar menjadi calon anggota legislastif (caleg), ia menjawab dengan tegas bahwa itu telah merendahkan wibawa politik.

Ketika dikejar pertanyaan apakah berarti artis tidak boleh mencalonkan diri sebagai caleg, ia segera mengkoreksi pernyataannya bahwa artis yang mau maju harus punya kemampuan. Ia mencontohkan Arnold Schwarzenegger dapat terpilih menjadi Gubernur California bukan sekedar mengandalkan keartisannya, tapi Arnold mampu menunjukkan kemampuan berdasarkan pengalaman di berbagai aktifitas sosial politik yang dijalaninya.

Sebagai informasi, sebelum menjadi Gubernur California, Arnold aktif di Partai Republik, berurusan dengan olahraga dan mendirikan yayasan yang mendukung aktivitas ekstrakurikuler anak sekolah. Selama 30 tahun terakhir, Arnold mencurahkan hidupnya untuk anak-anak, kalangan tak beruntung, para pendidik, dan banyak kalangan lainnya. Ia juga aktif menggalang dana untuk Partai Republik. Selain itu, Arnold sering terlibat dalam perdebatan isu-isu politik seperti masalah aborsi, hak kaum gay, lingkungan dan impeachment.

Jadi, artis yang mau terjun ke dunia politik harusnya bukan sembarang artis (atau artis sembarangan?). Sang artis harus telah menunjukkan bahwa dirinya punya cukup pengalaman dalam beraktifitas, kemampuan dasar dan kepekaan sosial yang tinggi. Kalau sang artis hanya mengandalkan keartisannya saja, maka anggapan orang bahwa dunia politik itu sekedar panggung sandiwara akan tetap lestari.

Maap-maap aja, ya, Mpok, Bang!

(foto: http://www.indonesiaselebriti.com)