Menjadi Pahlawan adalah Pilihan

heroes_08_f

Saya tertarik dengan tagline serial TV populer ”Heroes” yang terjemahan bebasnya berbunyi: ”mereka menjadi pahlawan bukan karena kemampuan mereka, tapi karena mereka memilih untuk jadi pahlawan”. Saya pikir maksud tagline itu relevan dengan kenyataan saat ini.

Kadang-kadang kita tidak menyadari ada orang-orang di sekitar kita yang begitu tulus memilih untuk menjadi pahlawan. Figur Ibu Muslimah dalam kisah ”Laskar Pelangi” yang memilih membaktikan dirinya menjadi guru bagi anak-anak tidak mampu di sebuah sekolah reyot bukanlah satu-satunya sosok pahlawan itu. Masih banyak guru-guru di berbagai pelosok terpencil nusantara yang tetap memilih untuk mengajar anak didiknya meski terdesak oleh kerasnya kehidupan dunia yang materialistis ini.

Pun, orang-orang disekitar kita yang dengan tulus ikhlas memilih untuk memberikan manfaat bagi orang lain, meski harus menanggung resiko yang tidak ringan. Sekecil apapun manfaat yang diberikannya itu, menurut saya, tetap layak ia dianggap pahlawan. Tanpa perlu menunggu secarik kertas berkop surat kepresidenan yang mengangkatnya sebagai pahlawan. Karena, sejatinya, pahlawan bukanlah gelar kehormatan, melainkan pilihan hidup.

Selamat Hari Pahlawan untuk mereka yang telah memilih untuk menjadi pahlawan!

(foto: http://www.starstore.com)

Advertisements

Salut untuk Rakyat Amerika Serikat!

barack1

Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegembiraan ketika John McCain mengakui kemenangan Barack Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Dengan begitu, langkah Barack Obama menuju kursi kepresidenan AS sudah tidak terbendung lagi.

Sempat muncul kekhawatiran Bradley effect akan mengganjal mimpi Obama. Untung rakyat Amerika Serikat sudah pintar. Mereka tidak mau lagi mengulang kebodohan memilih pemimpin berkarakter penjahat perang seperti George W. Bush.

Obama sangat saya kagumi. Politisi yang benar-benar mengakar. Bukan sekedar diuntungkan oleh ’politik keluarga’. Pun, tidak menghamba kepada korporasi kelas kakap untuk membantu kampanyenya. Segala hambatan yang dialaminya sebagai seorang afro-american dihadapinya dengan sabar dan tegar.

Saya sampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada rakyat Amerika Serikat yang telah memilih Obama dan mau menerima Obama sebagai pemimpinnya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun di negeri manapun. Setiap orang memiliki dan harus diberikan kesempatan yang sama dalam meraih cita-citanya. Bukan karena keluarga, suku, agama ataupun rasnya. Rekam jejak pengalaman, pendidikan dan pengabdiannya kepada masyarakatlah yang seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam menilai kapasitas seseorang untuk menjadi pemimpin.

Selamat bertugas untuk Barack Obama a.k.a Barry Soetoro. Kami tunggu perubahan yang kau janjikan.

(foto: de.eonline.com)