Ini Film Dahsyat, Man!

film-perempuan-berkalung-so

Awalnya, saya menonton film ini hanya karena pemeran utamanya adalah Revalina S. Temat, seorang model dan bintang sinetron yang menjadi inspirasi nama anak pertama saya. Terus terang, saya kurang berminat menonton film yang bertema agama karena biasanya bersifat dogmatis.

Tapi, film yang bercerita tentang perempuan yang hidup dalam lingkungan pesantren ini memang luar biasa. Dari segi ide cerita yang bertutur tentang  perempuan yang mempertanyakan kedudukan perempuan dalam Islam ini lumayan bagus. Sepanjang film, penonton terus menerus disajikan rangkaian konflik yang menarik. Teknik pengambilan gambarnya pun lumayan bagus.

Ada satu adegan yang menarik. Ketika beberapa orang penghuni pesantren berniat kabur karena merasa kehidupan pesantren tidak bisa membuat mereka bebas berkarya, Annisa, tokoh utama yang diperankan Revalina S. Temat itu, berusaha menahan keinginan mereka. Annisa menyampaikan bahwa ketika Pramoedya Ananta Toer berada di pengasingan dengan berbagai tekanan dan intimidasi dari rezim orde baru yang berkuasa saat itu, Pramoedya tetap mampu berkarya, dengan menulis dan menghasilkan serial karya terkenalnya yang berjudul “Bumi Manusia”. 

Sebuah argumentasi yang bagus. Apabila Pramoedya saja mampu menghasilkan karya besar meski hidup dalam tekanan, mengapa kita yang hidup lebih bebas daripada Pramoedya tidak mampu berkarya, meski hanya sekedar menulis saja?

Advertisements

Ini Soal Kemanusiaan, Bung!

free_palestine

Sedih rasanya melihat begitu banyak orang yang menjadi korban serangan tentara Israel terhadap pejuang Hammas di Jalur Gaza. Bukan saja orang dewasa yang menjadi korban, wanita dan anak-anakpun tidak luput dari serangan tersebut. Bangunan-bangunan sekolah, rumah sakit dan tempat ibadah pun hancur lebur dihantam serangan bertubi-tubi tentara Israel.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah beragamnya respon yang ditunjukkan dunia internasional terhadap peristiwa tersebut. PBB sebagai lembaga yang seharusnya bereaksi cepat menangani masalah ini malah terkesan ragu-ragu mengambil sikap.

Begitupun dengan reaksi di dalam negeri. Dari berbagai e-mail yang berseliweran di berbagai milis seolah-olah ditonjolkan bahwa peristiwa ini adalah masalah ‘perseteruan agama’. Sehingga bagi yang tidak berkepentingan dengan ‘perseteruan agama’ itu seolah-olah bersikap masa bodoh dengan segala hal yang terjadi di sana.

Ini soal kemanusiaan, Bung! Bukan soal agama atau bangsa apa yang terlibat di sana. Sudah jelas dipertontonkan di hadapan kita begitu banyak anak-anak dan wanita yang terluka atau kehilangan nyawanya. Begitu banyak orang yang kelaparan karena terputusnya distribusi bahan pangan di sana. Apakah kemudian kita masih mempermasalahkan agama atau bangsa apa yang terlibat di sana?

Menolong sesama adalah kewajiban setiap insan. Oleh karena itu, saya salut dengan upaya beberapa tokoh yang membentuk Prakarsa Persahabatan Indonesia – Palestina (Indonesian – Palestine Friendship Initiative). Sebuah lembaga yang dibentuk oleh tokoh-tokoh lintas agama, lintas suku bangsa, lintas profesi dan lintas afiliasi politik, dalam rangka menghimpun bantuan yang diperlukan untuk rakyat Palestine. Mereka semua sepakat bahwa peristiwa yang menimpa Palestina adalah insiden kemanusiaan. Oleh karena itu, setiap orang yang merasa dirinya manusia seharusnya tergerak untuk membantu meringankan penderitaan rakyat Palestina.

Stop Segala Bentuk Kejahatan Terhadap Kemanusiaan!

Throw One Million Shoes to Israel!!!