Dian Sastro Yahud!!!

3wishes3loves1

Apa jadinya kalau Dian Sastro dan Nicholas Saputra main film bareng lagi? Jawabnya: MANTAPS!

Ya, hari ini, saya dan istri menonton film “3 Doa 3 Cinta” (3D3C) yang dibintangi oleh mereka berdua. Bukan karena saya dengar film itu berhasil lolos dalam Official Selection di Pusan International Film Festival di Korea, sehingga mendapat kehormatan untuk ditayangkan perdana atau world premier di Korea. Bukan juga karena skenario film ini dianggap bagus banget sehingga berhasil mendapatkan script development grant dari Global Film Initiative di San Francisco, Amerika Serikat; Goteborg International Film Festival Fund dari Swedia dan Fond Sud Cinema dari Perancis. Sama sekali juga bukan karena pada bulan Mei 2008 lalu, film ini mendapat kehormatan diputar di Cannes Film Festival di Perancis didepan para produser, sutradara dan distributor film internasional.

Saya menonton film ini hanya karena kangen melihat mereka berdua main bareng lagi dalam satu film. Setelah film “Ada Apa Dengan Cinta?” (AADC) yang mereka bintangi begitu mengharubiru penontonnya, saya tidak melihat lagi ada film yang dibintangi mereka begitu sefenomenal AADC. Mungkin karena lawan main mereka tidak mampu menandingi kehandalan akting mereka. Mungkin juga karena memang tidak ada chemistry dengan lawan main mereka seperti ketika mereka beradu akting di AADC.

Saya pikir memang masalah chemistry jawabannya. Tidak bisa dipungkiri kalau chemistry mereka berdua memang begitu dahsyat saat mereka beradu akting. Mimik, tingkah laku dan dialog mereka yang begitu natural di film AADC kembali berulang di film 3D3C. Saya yakin anda akan sepakat dengan saya kalau anda menyaksikannya sendiri.

Lupakan soal ide ceritanya. Lupakan soal teknis pengambilan gambarnya. Saksikan saja totalitas penampilan Dian Sastro yang berperan sebagai penyanyi dangdut tingkat kampung. Saksikan saja interaksi mereka berdua yang membawa kita bernostalgia dengan romantika mereka di film AADC.

Akhir kata, saya hanya bisa bilang: Dian Sastro memang yahud punya!!!

Advertisements

Menjadi Pahlawan adalah Pilihan

heroes_08_f

Saya tertarik dengan tagline serial TV populer ”Heroes” yang terjemahan bebasnya berbunyi: ”mereka menjadi pahlawan bukan karena kemampuan mereka, tapi karena mereka memilih untuk jadi pahlawan”. Saya pikir maksud tagline itu relevan dengan kenyataan saat ini.

Kadang-kadang kita tidak menyadari ada orang-orang di sekitar kita yang begitu tulus memilih untuk menjadi pahlawan. Figur Ibu Muslimah dalam kisah ”Laskar Pelangi” yang memilih membaktikan dirinya menjadi guru bagi anak-anak tidak mampu di sebuah sekolah reyot bukanlah satu-satunya sosok pahlawan itu. Masih banyak guru-guru di berbagai pelosok terpencil nusantara yang tetap memilih untuk mengajar anak didiknya meski terdesak oleh kerasnya kehidupan dunia yang materialistis ini.

Pun, orang-orang disekitar kita yang dengan tulus ikhlas memilih untuk memberikan manfaat bagi orang lain, meski harus menanggung resiko yang tidak ringan. Sekecil apapun manfaat yang diberikannya itu, menurut saya, tetap layak ia dianggap pahlawan. Tanpa perlu menunggu secarik kertas berkop surat kepresidenan yang mengangkatnya sebagai pahlawan. Karena, sejatinya, pahlawan bukanlah gelar kehormatan, melainkan pilihan hidup.

Selamat Hari Pahlawan untuk mereka yang telah memilih untuk menjadi pahlawan!

(foto: http://www.starstore.com)

Salut untuk Rakyat Amerika Serikat!

barack1

Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegembiraan ketika John McCain mengakui kemenangan Barack Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Dengan begitu, langkah Barack Obama menuju kursi kepresidenan AS sudah tidak terbendung lagi.

Sempat muncul kekhawatiran Bradley effect akan mengganjal mimpi Obama. Untung rakyat Amerika Serikat sudah pintar. Mereka tidak mau lagi mengulang kebodohan memilih pemimpin berkarakter penjahat perang seperti George W. Bush.

Obama sangat saya kagumi. Politisi yang benar-benar mengakar. Bukan sekedar diuntungkan oleh ’politik keluarga’. Pun, tidak menghamba kepada korporasi kelas kakap untuk membantu kampanyenya. Segala hambatan yang dialaminya sebagai seorang afro-american dihadapinya dengan sabar dan tegar.

Saya sampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada rakyat Amerika Serikat yang telah memilih Obama dan mau menerima Obama sebagai pemimpinnya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun di negeri manapun. Setiap orang memiliki dan harus diberikan kesempatan yang sama dalam meraih cita-citanya. Bukan karena keluarga, suku, agama ataupun rasnya. Rekam jejak pengalaman, pendidikan dan pengabdiannya kepada masyarakatlah yang seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam menilai kapasitas seseorang untuk menjadi pemimpin.

Selamat bertugas untuk Barack Obama a.k.a Barry Soetoro. Kami tunggu perubahan yang kau janjikan.

(foto: de.eonline.com)

Menyoroti Politik Keluarga

Beberapa hari belakangan ini berbagai media massa begitu gencar menyoroti masuknya nama-nama anggota keluarga dari petinggi partai politik atau pejabat, baik di pusat atau di daerah, dalam daftar calon anggota legislatif. Hal ini mengundang komentar dari para pengamat yang menyebutnya sebagai politik keluarga.

 

Setidak-tidaknya ada empat alasan yang mengemuka mengenai alasan terjadinya politik keluarga ini, yaitu, pertama, proses rekrutmen partai politik yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kedua, sikap sebagian besar masyarakat yang apatis terhadap partai politik, sehingga partai politik hanya bisa merekrut orang-orang di ”lingkaran dalam” partai politik untuk menjadi calon anggota legislatif.

 

Ketiga, partai politik lebih percaya pada anggota keluarga dari ”lingkaran dalam” dibandingkan orang lain yang belum dikenal. Keempat, sebagai upaya mengamankan posisi petinggi partai politik atau pejabat yang bersangkutan di segala lini.

 

Komentar-komentar tersebut akhirnya mendapat reaksi. Megawati Soekarnoputri mengatakan kepada media bahwa anaknya, Puan Maharani, yang masuk daftar calon anggota DPR melalui daerah pemilihan Jawa Tengah V, telah aktif berkiprah sejak lama di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sehingga, menurutnya, wajar saja apabila Puan Maharani masuk dalam daftar calon anggota legislatif.

 

Reaksi berbeda datang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau memerintahkan pengurus Partai Demokrat untuk mencoret nama anaknya, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, dari nomor urut satu pada daftar calon anggota DPR di daerah pemilihan Jawa Timur VII (Jatim VII). Akhirnya, Ibas ditempatkan pada nomor urut tiga di daerah pemilihan Jatim VII.    

 

Lihat Track Record-nya!

 

Terus terang, saya tidak tertarik untuk ikut-ikutan menjadi ”hakim” dalam masalah politik keluarga ini. Prinsip saya, siapapun memiliki kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Tidak boleh ada halangan bagi keluarga presiden, keluarga gubernur, keluarga tukang sayur atau keluarga tukang becak untuk maju memperebutkan jabatan publik seperti kepala negara, kepala daerah atau anggota legislatif.

 

Namun, masyarakat juga punya hak untuk memilih seseorang yang benar-benar berkualitas untuk memegang jabatan publik. Selain tidak pernah tersangkut dalam perkara tindak kejahatan, orang itu juga harus memiliki rekam jejak (track record) yang jelas. Orang itu harus memiliki pengalaman organisasi yang memadai, serta aktivitas sosial yang relevan dengan jabatan publik yang diincarnya.

 

Merupakan nilai tambah apabila orang itu aktif menyampaikan pendapatnya dalam bentuk lisan atau tulisan terhadap masalah-masalah sosial yang sedang berkembang.  Dengan begitu, masyarakat bisa mengetahui dan menilai ”isi otak” dari orang tersebut.

 

Masalahnya, saat ini partai politik tidak punya itikad baik untuk mengumumkan secara terbuka informasi lengkap mengenai calon anggota legislatif yang diusungnya. Jangan salahkan masyarakat apabila timbul kecurigaan terhadap calon anggota legislatif dari anggota keluarga petinggi partai atau pejabat tersebut. Masyarakat tidak pernah diberikan informasi yang memadai tentang track record dari calon anggota legislatif tersebut.

Apabila partai politik memang benar-benar mengajukan calon anggota legislatif yang berkualitas dan tidak mau terus menerus dicurigai masyarakat, maka segera umumkan secara terbuka informasi lengkap mengenai calon anggota legislatif yang diusungnya tersebut. Informasi tersebut minimal harus memuat nama, foto terbaru, latar belakang pendidikan, latar belakang pekerjaan, dan pengalaman organisasi serta aktivitas sosial yang relevan lainnya. Dengan informasi yang memadai, masyarakat dapat memberikan penilaian yang lebih fair terhadap para calon anggota legislatif yang diusung partai politik tersebut.

 

(foto: www.dpr.go.id)

Belajar Sabar dari Quentin Bryce

Former Queensland Governor Quentin Bryce in Los Angeles during G'Day LA Australia Week 2005

Satu lagi sosok perempuan hebat muncul di pentas politik dunia. Dialah Quentin Bryce, seorang pengacara, aktivis HAM dan akademisi, yang terpilih sebagai gubernur jenderal Australia yang baru. Saya bilang hebat karena selama 107 tahun sejarah Australia, baru sekarang jabatan gubernur jenderal Australia dipegang oleh seorang perempuan.

Secara de jure, gubernur jenderal Australia adalah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Australia. Dia juga berhak menunjuk perdana menteri apabila parlemen gagal memilih perdana menteri seusai pemilu. Dia juga berhak membubarkan kabinet.

Mengapa perempuan berusia 66 tahun ini bisa dipercaya sebagai gubernur jenderal? Tak lain tak bukan adalah karena track record-nya yang panjang dan mengagumkan. Dia merintis karirnya sebagai pengacara perempuan pertama di Negara Bagian Queensland. Kemudian, menjadi dosen hukum perempuan pertama di Universitas Queensland, tempatnya mengajar selama 15 tahun. Karirnya berlanjut dengan menjadi Direktur Pusat Informasi Perempuan Queensland.

Dia pun berhasil menembus level kepemimpinan di pemerintahan federal dengan menjadi Direktur Komisi Peluang Kesetaraan dan Hak Asasi Queensland sejak tahun 1987. Selama empat periode (1989-1993), dia menjadi komisioner Diskriminasi Seks Federal. Dia juga dipercaya sebagai pemimpin Dewan Akreditasi Anak-anak Nasional. Sederet pengalaman panjang inilah yang kemudian memuluskan langkahnya menjadi gubernur Queensland pada tahun 2003, sebelum akhirnya dilantik sebagai gubernur jenderal Australia pada 5 September 2008.

Semua kalangan di Australia menyambut baik pengangkatan Bryce. Dengan track record yang sedemikian panjang dan mengagumkan, tidak ada satupun kalangan yang meragukan kepemimpinannya.     

Bandingkan dengan track record  beberapa tokoh di tanah air yang sedang berebut jabatan publik. Kadang saya suka geli melihat ke-pede-an mereka. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah memiliki pengalaman di pemerintahan tiba-tiba mencalonkan diri sebagai kepala daerah, atau bahkan presiden? Kalaupun mereka bukan “orang pemerintahan”, mereka juga tidak punya pengalaman dalam memimpin partai politik atau organisasi non-pemerintah yang jumlah anggotanya besar atau ruang lingkup aktivitasnya luas. Bagaimana rakyat bisa yakin akan kemampuan memimpin mereka?

Kebanyakan dari mereka tidak sabar untuk mengasah kemampuan memimpinnya terlebih dahulu. Mereka tidak sadar bahwa kemampuan memimpin harus diasah dulu dengan terlibat aktif dalam organisasi dan aktivitas sosial lainnya. Kemampuan memimpin itu didapat dari belajar memimpin organisasi yang lebih kecil untuk kemudian berlanjut ke organisasi yang lebih besar.

Penggunaan popularitas atau kekayaan sebagai satu-satunya modal untuk meraih jabatan publik harus ditinggalkan, karena menjalankan jabatan publik tidak sekedar butuh popularitas atau kekayaan. Bagaimanapun kemampuan memimpin adalah modal utama seseorang menjadi pemimpin, baik di tingkat daerah atau nasional. Sangat disayangkan apabila ada orang tanpa pengalaman dan kemampuan memimpin yang memadai coba-coba merebut jabatan publik. Kepentingan masyarakat menjadi obyek permainan semata.

Cobalah belajar dari Quentin Bryce. Bukan berarti harus menunggu sampai tua dulu untuk mencapai jabatan publik yang tertinggi. Kesabarannya dalam meniti karir politik guna mencari pengalaman dan mengasah kemampuan memimpinlah yang harus dijadikan pelajaran. Dengan begitu, publik tidak akan pernah ragu mempercayakan amanah kepadanya.

(foto: goaustralia.com)               

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Metallica… oh… Metallica

Begitu membaca ulasan di sebuah surat kabar tentang album baru Metallica yang berjudul Death Magnetic, saya langsung bersukacita. Dalam ulasan itu dikatakan bahwa album itu dianggap sebagai “penemuan diri kembali” Metallica. Album ini dikatakan sebagai hasil belajar serius para personel Metallica dan produsernya dari kegagalan penjualan album terakhir mereka, St Anger, dan kesuksesan fenomenal album Master of Puppets.

Saya mengenal Metallica sejak kelas 1 SMP, tepatnya tahun 1988, ketika seorang teman “memaksa” saya untuk mendengarkan lagu-lagu Metallica dari album …And Justice for All. Sejak saat itu, entah mengapa, saya merasakan nikmatnya mendengarkan musik cadas dari band seperti Metallica dan sejenisnya. Lagu-lagu yang kebanyakan liriknya berisi isu-isu keadaan dunia dan protes sosial itu terdengar begitu merdu di telinga saya.

Saat itu, semua album Metallica, dari mulai Kill ’em All sampai ”black album”, saya koleksi. Bahkan, saat kelas 3 SMP, saya dan teman-teman sekolah membentuk band yang karakter masing-masing personilnya meniru karakter personil Metallica. Dengan spesialisasi lagu-lagu Metallica tentunya.

Sejujurnya, saya mulai ”kecewa” dengan Metallica, ketika mereka mengeluarkan ”black album”. Saya merasa tempo permainan mereka dalam album itu tidak secepat album-album sebelumnya. Musiknya pun tidak ”galak” seperti album-album sebelumnya. Kemudian, entah mengapa, album-album Metallica setelah itu menjadi terasa ”hambar”. Saya tidak bisa lagi menikmati lagu-lagu Metallica.

Makanya, ketika album Death Magnetic diluncurkan, saya menaruh harapan besar. Saya ingin sekali bisa menikmati lagu-lagu Metallica seperti dulu.

Kenyataannya? Saya harus kecewa sekali lagi. Setelah mendengarkan lagu-lagu dari album itu, saya masih belum ”menemukan diri” Metallica yang saya kenal pada album-album awal mereka. Memang tempo musiknya tetap cepat. Musiknya pun lumayan “galak”. Namun, mengapa saya masih tidak bisa menikmati  lagu-lagunya, ya? Apakah saya terjebak nostalgia masa lalu?

Nyatanya, dari 10 lagu dalam album itu, saya hanya bisa menikmati 2 lagu saja, yaitu ”All Nightmare Long” dan ”The Day That Never Comes”. Itupun setelah didengarkan berkali-kali dulu baru telinga saya bisa menikmatinya. Padahal, dulu saya bisa menikmati semua lagu di album-album awal mereka dengan hanya mendengarkan sekali dua kali saja.

Mungkin memang begitulah roda kehidupan. Ada saatnya di atas, ada saatnya juga di bawah. Metallica pernah demikian berjayanya pada masa lalu. Saat ini mungkin masanya Metallica berada di bawah. Merelakan band-band baru memegang tongkat estafet kejayaan musik cadas.

Bagi saya, sampai kapanpun Metallica tetap band terbaik di muka bumi ini. Metallica pernah menjadi salah satu kenangan terhebat dari masa lalu saya. Metallica dan lagu-lagunya pun sedikit banyak turut membentuk karakter pribadi saya. Mudah-mudahan Metallica dapat ”menemukan diri” mereka kembali di album-album mereka berikutnya.

Metal up your a%#!!!

(foto-foto: Metallica.com)

  • Calendar

    • October 2017
      M T W T F S S
      « Jun    
       1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031  
  • Search