Buku Bagus: Tribes by Seth Godin

tribes_011

Saya baru selesai membaca sebuah buku yang inspiratif berjudul “Tribes” yang ditulis oleh Seth Godin. Sebelum buku ini, Seth telah menulis beberapa buku best seller, yaitu “Purple Cow” dan “The Dip”.

Menurut pengamatan penulis terhadap latar belakang para pemimpin yang dianggap sukses memimpin kelompoknya (tribes) masing-masing, ternyata tidak ditemukan adanya kesamaan diantara mereka. Tidak ada kesamaan gender, tingkat pendapatan atau wilayah. Tidak ada gen pemimpin atau profesi pemimpin. Dengan kata lain, pemimpin tidak dilahirkan.

Namun, kalaupun mau dicari-cari kesamaannya, ada satu kesamaan mereka: keputusan untuk memimpin. Ya, karena kepemimpinan adalah pilihan. Pilihan untuk tidak tinggal diam. Pemimpin bisa ada di depan atau di belakang. Tapi pemimpin tidak pernah tinggal diam.

Pemimpin selalu mengambil inisiatif. Mereka melihat sesuatu yang diabaikan dan mereka segera bertindak. Bukan soal siapa yang paling cerdas, atau siapa yang paling brilian idenya. Ini soal siapa yang pertama kali mengambil inisiatif untuk mewujudkan suatu ide.

Banyak orang di luar sana yang memiliki kesamaan ide, tapi tidak ada yang mengambil inisiatif untuk mewujudkan idenya. Saat seseorang dari mereka mengambil inisiatif untuk tampil ke depan dalam rangka mewujudkan ide tersebut, maka, disadari atau tidak, ia telah menjadi pemimpin bagi kelompoknya.

Buku yang tebalnya hanya 144 halaman ini, cocok dibaca pada saat akhir pekan untuk mengisi kembali semangat juang di awal minggu. Dengan harga cetakan berbahasa Indonesia di bawah Rp 50 ribu saja, tidak rugi mengeluarkan uang untuk mendapatkan pencerahan dari buku ini.

Selamat membaca!

Old School Books

Saya baru dikirimi e-mail oleh seorang teman. Isinya ternyata foto buku-buku sekolah semasa SD dan SMP dulu. FYI, saya masuk SD itu sekitar tahun ’83-an.

Langsung teringat ketika di SD dulu belajar membaca dan menulis. Tokoh Budi, Iwan dan Wati adalah “tokoh abadi” yang selalu menemani dalam setiap seri buku pelajaran bahasa Indonesia. Budi adalah anak tertua, Wati adalah anak tengah, dan Iwan adalah si bungsu.

Tak pernah menyangka, dari belajar menulis di buku tulis bergaris, sekarang belajar menulis di media maya. Hm … What a life!

New Young Writer is Born :)

Kemarin, Reva (6 th), anak perempuan saya, minta saya untuk pulang kantor segera. Dia bilang akan ada kejutan buat ayahnya. Sesampai dirumah, ternyata Reva ingin menunjukkan “buku” hasil karyanya sendiri.

“Buku” itu terbuat dari beberapa lembar kertas folio yang dilipat dua. Sampulnya diambil dari potongan sampul DVD rekaman acara yang diselenggarakan oleh tempat latihan baletnya. “Buku” setebal 20 halaman itu berisi tulisan Reva pada sisi kiri dan gambar yang dibuat oleh pengasuh Reva pada sisi kanannya. Gambar dibuat untuk menerangkan cerita yang dibuat Reva tentang puteri duyung.

What a smart girl!

(maap, kalau agak narsis … hehehe)

(Namarina and the Namarina logo are trademarks owned by Namarina Academy)

Thanks, Mas Edy!

Beberapa waktu lalu, saya dihubungi melalui e-mail oleh Mas Edy Zaques. Ia ingin memuat tulisan saya yang berjudul “Aksi Mahasiswa Tanpa Simpati Publik, Omong Kosong!” dalam situs Pembelajar.com yang diasuhnya. Sebagai salah satu pengagumnya, hal itu jelas merupakan suatu kehormatan bagi saya.

Bukunya yang berjudul “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller” telah berhasil memotivasi saya untuk menulis buku pertama saya. Apalagi saya beruntung mendapatkan edisi penyempurnaan dari buku tersebut secara gratis. Tentu dengan tanda tangan beliau didalamnya, dong.

Sekali lagi, terima kasih, Mas Edy! Dimuatnya tulisan saya dalam Pembelajar.com jelas menambah semangat saya untuk terus berlatih menulis. Setidak-tidaknya, supaya nggak bikin malu untuk disandingkan dengan para penulis profesional di Pembelajar.com, khan? 😉

Galeri Buku Bengkel Deklamasi

Pada saat mengantar anak saya untuk latihan dan tampil dalam pertunjukan balet di Graha Bhakti Budaya TIM, saya menemukan “surga dunia” di sana. Ya, sebuah toko buku bernama “Galeri Buku Bengkel Deklamasi” telah menjadi salah satu tempat favorit saya. Toko buku itu terletak menyempil di pojok sejajar dengan Theater TIM 21 dan Graha Bhakti Budaya.

Koleksinya beragam. Mulai dari buku sastra sampai politik ada di sana. Beberapa buku tua yang langka juga bisa ditemukan disana. Buku-buku yang sebenarnya bagus (menurut saya, lho!) namun tidak laku di pasaran, dijual dengan harga diskon yang lumayan.

Pokoknya, kalau anda “penggila” buku seperti saya, dijamin anda akan betah berlama-lama di sana. Bahkan istri saya sampai harus mengingatkan berkali-kali. Habis malu, katanya, jangan-jangan numpang baca doang, belinya nggak … hehehe (beli dua, koq. Beneran!)

 

(foto: koleksi pribadi)             

  • Calendar

    • August 2017
      M T W T F S S
      « Jun    
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      28293031  
  • Search