Buku Bagus: Tribes by Seth Godin

tribes_011

Saya baru selesai membaca sebuah buku yang inspiratif berjudul “Tribes” yang ditulis oleh Seth Godin. Sebelum buku ini, Seth telah menulis beberapa buku best seller, yaitu “Purple Cow” dan “The Dip”.

Menurut pengamatan penulis terhadap latar belakang para pemimpin yang dianggap sukses memimpin kelompoknya (tribes) masing-masing, ternyata tidak ditemukan adanya kesamaan diantara mereka. Tidak ada kesamaan gender, tingkat pendapatan atau wilayah. Tidak ada gen pemimpin atau profesi pemimpin. Dengan kata lain, pemimpin tidak dilahirkan.

Namun, kalaupun mau dicari-cari kesamaannya, ada satu kesamaan mereka: keputusan untuk memimpin. Ya, karena kepemimpinan adalah pilihan. Pilihan untuk tidak tinggal diam. Pemimpin bisa ada di depan atau di belakang. Tapi pemimpin tidak pernah tinggal diam.

Pemimpin selalu mengambil inisiatif. Mereka melihat sesuatu yang diabaikan dan mereka segera bertindak. Bukan soal siapa yang paling cerdas, atau siapa yang paling brilian idenya. Ini soal siapa yang pertama kali mengambil inisiatif untuk mewujudkan suatu ide.

Banyak orang di luar sana yang memiliki kesamaan ide, tapi tidak ada yang mengambil inisiatif untuk mewujudkan idenya. Saat seseorang dari mereka mengambil inisiatif untuk tampil ke depan dalam rangka mewujudkan ide tersebut, maka, disadari atau tidak, ia telah menjadi pemimpin bagi kelompoknya.

Buku yang tebalnya hanya 144 halaman ini, cocok dibaca pada saat akhir pekan untuk mengisi kembali semangat juang di awal minggu. Dengan harga cetakan berbahasa Indonesia di bawah Rp 50 ribu saja, tidak rugi mengeluarkan uang untuk mendapatkan pencerahan dari buku ini.

Selamat membaca!

Advertisements

Caught In The Act!

Saat akhir pekan, beberapa kali saya dipergoki oleh teman-teman sedang ‘liat-liatan’ dengan notebook saya di pojokan ‘warung kopi’. Berbagai komentarpun terlontar. Ada yang bilang saya ‘gila kerja’. Ada juga yang mengasihani notebook saya yang masih saja ‘dipekerjakan’ saat weekend 🙂

Sebenarnya saya tidak sedang bekerja, Teman. Kalaupun bekerja saat akhir pekan, saya hanya akan bekerja di kantor atau di rumah. Saat dipergoki itu, sebenarnya saya sedang bermain. Ya, bermain-main dengan ide-ide liar di kepala saya.

Saat berjalan-jalan dengan keluarga di akhir pekan, notebook biasanya tetap ikut serta. Hal ini untuk mengantisipasi ‘serangan mendadak’ di kepala saya. Entah kenapa, kalau melihat atau membaca sesuatu yang ‘tidak biasa’ seringkali muncul ide-ide liar di kepala saya. Kalau sudah begini, kepala terasa penuh dan pandangan menerawang nggak jelas.

Keluarga saya sudah mengerti kalau saya sedang mengalami kondisi itu. Biasanya, ritual selanjutnya adalah: mencari pojokan nyaman di ‘warung kopi’, memesan secangkir caffe latte, menyalakan notebook, dan memutar playlist berisi tembang-tembang milik Linkin Park, Blink 182, Iron Maiden, Deep Purple atau Scorpions. Setelah itu, tinggal membiarkan jari-jari saya menari-nari di atas keyboard mengikuti kemauan ide-ide liar di kepala saya.

Beberapa puluh menit kemudian, biasanya ide-ide liar itu telah memiliki bentuk. Anda bisa lihat sendiri sebagian bentuk ide-ide liar itu dalam blog ini atau di www.arijuliano.net. Mohon maaf kalau ternyata isinya nggak penting-penting amat. Namanya juga ide liar. Bisa semau-maunya 🙂