Buku Bagus: Tribes by Seth Godin

tribes_011

Saya baru selesai membaca sebuah buku yang inspiratif berjudul “Tribes” yang ditulis oleh Seth Godin. Sebelum buku ini, Seth telah menulis beberapa buku best seller, yaitu “Purple Cow” dan “The Dip”.

Menurut pengamatan penulis terhadap latar belakang para pemimpin yang dianggap sukses memimpin kelompoknya (tribes) masing-masing, ternyata tidak ditemukan adanya kesamaan diantara mereka. Tidak ada kesamaan gender, tingkat pendapatan atau wilayah. Tidak ada gen pemimpin atau profesi pemimpin. Dengan kata lain, pemimpin tidak dilahirkan.

Namun, kalaupun mau dicari-cari kesamaannya, ada satu kesamaan mereka: keputusan untuk memimpin. Ya, karena kepemimpinan adalah pilihan. Pilihan untuk tidak tinggal diam. Pemimpin bisa ada di depan atau di belakang. Tapi pemimpin tidak pernah tinggal diam.

Pemimpin selalu mengambil inisiatif. Mereka melihat sesuatu yang diabaikan dan mereka segera bertindak. Bukan soal siapa yang paling cerdas, atau siapa yang paling brilian idenya. Ini soal siapa yang pertama kali mengambil inisiatif untuk mewujudkan suatu ide.

Banyak orang di luar sana yang memiliki kesamaan ide, tapi tidak ada yang mengambil inisiatif untuk mewujudkan idenya. Saat seseorang dari mereka mengambil inisiatif untuk tampil ke depan dalam rangka mewujudkan ide tersebut, maka, disadari atau tidak, ia telah menjadi pemimpin bagi kelompoknya.

Buku yang tebalnya hanya 144 halaman ini, cocok dibaca pada saat akhir pekan untuk mengisi kembali semangat juang di awal minggu. Dengan harga cetakan berbahasa Indonesia di bawah Rp 50 ribu saja, tidak rugi mengeluarkan uang untuk mendapatkan pencerahan dari buku ini.

Selamat membaca!

Belajar Sabar dari Quentin Bryce

Former Queensland Governor Quentin Bryce in Los Angeles during G'Day LA Australia Week 2005

Satu lagi sosok perempuan hebat muncul di pentas politik dunia. Dialah Quentin Bryce, seorang pengacara, aktivis HAM dan akademisi, yang terpilih sebagai gubernur jenderal Australia yang baru. Saya bilang hebat karena selama 107 tahun sejarah Australia, baru sekarang jabatan gubernur jenderal Australia dipegang oleh seorang perempuan.

Secara de jure, gubernur jenderal Australia adalah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Australia. Dia juga berhak menunjuk perdana menteri apabila parlemen gagal memilih perdana menteri seusai pemilu. Dia juga berhak membubarkan kabinet.

Mengapa perempuan berusia 66 tahun ini bisa dipercaya sebagai gubernur jenderal? Tak lain tak bukan adalah karena track record-nya yang panjang dan mengagumkan. Dia merintis karirnya sebagai pengacara perempuan pertama di Negara Bagian Queensland. Kemudian, menjadi dosen hukum perempuan pertama di Universitas Queensland, tempatnya mengajar selama 15 tahun. Karirnya berlanjut dengan menjadi Direktur Pusat Informasi Perempuan Queensland.

Dia pun berhasil menembus level kepemimpinan di pemerintahan federal dengan menjadi Direktur Komisi Peluang Kesetaraan dan Hak Asasi Queensland sejak tahun 1987. Selama empat periode (1989-1993), dia menjadi komisioner Diskriminasi Seks Federal. Dia juga dipercaya sebagai pemimpin Dewan Akreditasi Anak-anak Nasional. Sederet pengalaman panjang inilah yang kemudian memuluskan langkahnya menjadi gubernur Queensland pada tahun 2003, sebelum akhirnya dilantik sebagai gubernur jenderal Australia pada 5 September 2008.

Semua kalangan di Australia menyambut baik pengangkatan Bryce. Dengan track record yang sedemikian panjang dan mengagumkan, tidak ada satupun kalangan yang meragukan kepemimpinannya.     

Bandingkan dengan track record  beberapa tokoh di tanah air yang sedang berebut jabatan publik. Kadang saya suka geli melihat ke-pede-an mereka. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah memiliki pengalaman di pemerintahan tiba-tiba mencalonkan diri sebagai kepala daerah, atau bahkan presiden? Kalaupun mereka bukan “orang pemerintahan”, mereka juga tidak punya pengalaman dalam memimpin partai politik atau organisasi non-pemerintah yang jumlah anggotanya besar atau ruang lingkup aktivitasnya luas. Bagaimana rakyat bisa yakin akan kemampuan memimpin mereka?

Kebanyakan dari mereka tidak sabar untuk mengasah kemampuan memimpinnya terlebih dahulu. Mereka tidak sadar bahwa kemampuan memimpin harus diasah dulu dengan terlibat aktif dalam organisasi dan aktivitas sosial lainnya. Kemampuan memimpin itu didapat dari belajar memimpin organisasi yang lebih kecil untuk kemudian berlanjut ke organisasi yang lebih besar.

Penggunaan popularitas atau kekayaan sebagai satu-satunya modal untuk meraih jabatan publik harus ditinggalkan, karena menjalankan jabatan publik tidak sekedar butuh popularitas atau kekayaan. Bagaimanapun kemampuan memimpin adalah modal utama seseorang menjadi pemimpin, baik di tingkat daerah atau nasional. Sangat disayangkan apabila ada orang tanpa pengalaman dan kemampuan memimpin yang memadai coba-coba merebut jabatan publik. Kepentingan masyarakat menjadi obyek permainan semata.

Cobalah belajar dari Quentin Bryce. Bukan berarti harus menunggu sampai tua dulu untuk mencapai jabatan publik yang tertinggi. Kesabarannya dalam meniti karir politik guna mencari pengalaman dan mengasah kemampuan memimpinlah yang harus dijadikan pelajaran. Dengan begitu, publik tidak akan pernah ragu mempercayakan amanah kepadanya.

(foto: goaustralia.com)