Buku Bagus: Tribes by Seth Godin

tribes_011

Saya baru selesai membaca sebuah buku yang inspiratif berjudul “Tribes” yang ditulis oleh Seth Godin. Sebelum buku ini, Seth telah menulis beberapa buku best seller, yaitu “Purple Cow” dan “The Dip”.

Menurut pengamatan penulis terhadap latar belakang para pemimpin yang dianggap sukses memimpin kelompoknya (tribes) masing-masing, ternyata tidak ditemukan adanya kesamaan diantara mereka. Tidak ada kesamaan gender, tingkat pendapatan atau wilayah. Tidak ada gen pemimpin atau profesi pemimpin. Dengan kata lain, pemimpin tidak dilahirkan.

Namun, kalaupun mau dicari-cari kesamaannya, ada satu kesamaan mereka: keputusan untuk memimpin. Ya, karena kepemimpinan adalah pilihan. Pilihan untuk tidak tinggal diam. Pemimpin bisa ada di depan atau di belakang. Tapi pemimpin tidak pernah tinggal diam.

Pemimpin selalu mengambil inisiatif. Mereka melihat sesuatu yang diabaikan dan mereka segera bertindak. Bukan soal siapa yang paling cerdas, atau siapa yang paling brilian idenya. Ini soal siapa yang pertama kali mengambil inisiatif untuk mewujudkan suatu ide.

Banyak orang di luar sana yang memiliki kesamaan ide, tapi tidak ada yang mengambil inisiatif untuk mewujudkan idenya. Saat seseorang dari mereka mengambil inisiatif untuk tampil ke depan dalam rangka mewujudkan ide tersebut, maka, disadari atau tidak, ia telah menjadi pemimpin bagi kelompoknya.

Buku yang tebalnya hanya 144 halaman ini, cocok dibaca pada saat akhir pekan untuk mengisi kembali semangat juang di awal minggu. Dengan harga cetakan berbahasa Indonesia di bawah Rp 50 ribu saja, tidak rugi mengeluarkan uang untuk mendapatkan pencerahan dari buku ini.

Selamat membaca!

Salut untuk Rakyat Amerika Serikat!

barack1

Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegembiraan ketika John McCain mengakui kemenangan Barack Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Dengan begitu, langkah Barack Obama menuju kursi kepresidenan AS sudah tidak terbendung lagi.

Sempat muncul kekhawatiran Bradley effect akan mengganjal mimpi Obama. Untung rakyat Amerika Serikat sudah pintar. Mereka tidak mau lagi mengulang kebodohan memilih pemimpin berkarakter penjahat perang seperti George W. Bush.

Obama sangat saya kagumi. Politisi yang benar-benar mengakar. Bukan sekedar diuntungkan oleh ’politik keluarga’. Pun, tidak menghamba kepada korporasi kelas kakap untuk membantu kampanyenya. Segala hambatan yang dialaminya sebagai seorang afro-american dihadapinya dengan sabar dan tegar.

Saya sampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada rakyat Amerika Serikat yang telah memilih Obama dan mau menerima Obama sebagai pemimpinnya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun di negeri manapun. Setiap orang memiliki dan harus diberikan kesempatan yang sama dalam meraih cita-citanya. Bukan karena keluarga, suku, agama ataupun rasnya. Rekam jejak pengalaman, pendidikan dan pengabdiannya kepada masyarakatlah yang seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam menilai kapasitas seseorang untuk menjadi pemimpin.

Selamat bertugas untuk Barack Obama a.k.a Barry Soetoro. Kami tunggu perubahan yang kau janjikan.

(foto: de.eonline.com)

Shahid Malik, Orang Muda yang Menerabas Prasangka

 

Kehadiran Shahid Malik, Menteri Pembangunan Internasional Inggris, di Indonesia, kembali memperlihatkan kepada kita bahwa orang muda juga mampu tampil sebagai pemimpin apabila diberi kepercayaan. Menteri yang baru berusia 41 tahun ini adalah muslim pertama yang menjadi anggota kabinet sepanjang sejarah Inggris.

 

Untuk mencapai posisinya sekarang bukanlah hal mudah. Sebagai seorang muslim yang berwajah asia, Malik kerap kali mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan. Malik pernah dipukuli oleh polisi Inggris dalam suatu kerusuhan ketika ia berusaha meminta polisi menahan diri untuk tidak meladeni kemarahan gerombolan massa.

 

Saat telah menjabat sebagai menteri pun Malik pernah mendapat pengalaman pahit. Karena ”tampak muslim”, ia ditahan dan digeledah petugas keamanan Bandara Dulles, Washington DC, bersama dengan dua calon penumpang yang kebetulan juga muslim. Sebelumnya, ia juga pernah mendapat perlakuan serupa di Bandara JFK, New York. Ironisnya, dua kali kedatangannya ke AS tersebut adalah untuk memenuhi undangan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS dalam rangka membicarakan mengenai masalah keamanan dunia dan terorisme.

Tapi itu semua tidak pernah menyurutkan langkahnya. Malik, yang keluarganya berasal dari Pakistan ini, berjuang keras dari bawah untuk membangun karier politiknya ditengah-tengah prasangka terhadap dirinya sebagai kaum minoritas di Inggris. Beberapa jabatan dalam berbagai organisasi telah menjadi ajang unjuk kemampuannya, seperti National Chair of the Urban Forum, Commissioner to the Northern Ireland Equality Commission (1999-2002), Commissioner for Racial Equality, Great Britain, Vice-Chair of UNESCO UK, Government Adviser on Community Cohesion and Neighbourhood Renewal, dan Member of Parliament for Dewsbury (2005). Titik cerah karir politiknya dimulai ketika ia terpilih masuk dalam Komite Eksekutif Nasional Partai Buruh pada tahun 2000, sebagai orang non-kulit putih pertama yang bisa masuk dalam posisi bergengsi tersebut.

 

Malik kemudian ditunjuk oleh PM Inggris Gordon Brown pada tanggal 27 Juni 2007 untuk memimpin Departemen Urusan Pembangunan Internasional. Sebuah departemen yang saat ini memiliki anggaran sebesar 10 miliar dollar AS untuk diberikan kepada negara manapun yang membutuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

 

Resep suksesnya bukan hal baru. Kerja keras, percaya diri dan tekad kuat untuk meraih apa pun yang diinginkan, adalah tiga prinsip yang dipegang teguh dalam menapaki cita-citanya (Kompas, 26/06/08). Perjuangan Shahid Malik ini seharusnya dapat menjadi motivasi bagi orang muda, dari latar belakang apapun, untuk berjuang mewujudkan cita-citanya.

 

 

(foto: www.kompas.com)

  • Calendar

    • August 2017
      M T W T F S S
      « Jun    
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      28293031  
  • Search